Kamis, 18 September 2008

Muslim Indonesia "Belum Wajib Naik Haji"


Rukun Islam Kelima, yaitu menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah, adalah wajib atas setiap muslim yang mampu. Namun, juga dipersyaratkan bahwa muslim yang berangkat haji haruslah benar-benar mampu. Jangan sampai seorang muslim berangkat haji, namun saudara dan kerabat yang ditinggalkan terlantar. Artinya, jangan memaksakan diri untuk pergi haji, yang butuh biaya cukup besar, dengan mengorbankan biaya untuk kebutuhan hidup layak bagi saudara atau kerabat yang ditinggal. Namun, selama ini kita terjebak pada simplifikasi, bahwa yang dimaksud saudara itu hanya saudara dan kerabat yang masih memiliki pertalian darah dengan kita saja. Kita lupa, bahwa dalam konsep Ukhuwah Islamiah, semua muslim itu bersaudara...lebih erat dari pada hanya hubungan sedarah, karena kesamaan aqidah yang mengikatnya.

Tiap tahun Indonesia memperoleh kuota sebanyak 300.000 calon jemaah haji. Saat ini ongkos naik haji mencapai angka Rp. 30.000.000. Artinya biaya yang dikeluarkan jemaah haji Indonesia setiap tahun berjumlah 90 trilyun Rupiah!! Belum lagi dana yang masih parkir dalam bentuk tabungan haji, karena masih masuk daftar tunggu untuk berangkat haji, jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Banyak juga yang masih ingin naik haji untuk yang kedua, ketiga, atau kesekian kalinya. Namun sungguh ironis, disisi lain, masih banyak umat Islam Indonesia yang tidak cukup makan, tidak cukup pakaian, tidak memiliki perumahan yang layak, tidak mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka. Bahkan lebih tragis lagi, banyak umat yang bayinya busung lapar, yang bunuh diri karena himpitan beban hidup.. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah, banyak umat yang murtad, pindah agama, demi terjaminnya kelangsungan hidup mereka!!

Dengan kondisi demikian, pikiran awam saya menggugat, benarkah umat Islam di Indonesia ini telah wajib menunaikan ibadah haji? Tidakkah akan lebih besar manfaatnya bagi kemaslahatan umat jika dana jemaah haji yang berjumlah 90 trilyun rupiah/tahun itu di salurkan saja untuk umat? Angka 90 trilyun Rupiah itu barangkali mampu mengentaskan semua umat yang miskin di 2 atau 3 provinsi tiap tahunnya. Bukankah setiap muslim itu bersaudara? Bukankah hanya beberapa meter dari pintu rumah kita, masih ada tetangga muslim yang menjerit karena terlilit kemiskinan? Bukankah masih banyak saudara muslim kita yang menjadi gelandangan dan pengemis dijalanan? Juga, bukankah masih banyak saudara muslim kita yang gampang dimurtadkan karena mereka miskin? Nah, sebelum semua saudara muslim kita itu mampu hidup secara layak dan bermartabat, menunaikan ibadah haji belumlah wajib bagi kita. Ongkos naik haji yang telah kita siapkan itu harusnya lebih berhak diterima oleh sudara-saudar muslim kita yang miskin itu.

Lagi-lagi pendapat awam saya berkeyakinan, Allah SWT akan memberi pahala sama atau bahkan lebih dari pahala haji, jika umat yang telah berniat untuk menunaikan ibadah haji, akhirnya malah mengikhlaskan semua ongkos naik haji mereka tersebut disumbangkan untuk mengentaskan berbagai persoalan umat, terutama masalah kemiskinan. Sebaliknya, saya yakin, tidak akan bernilai ibadah haji yang kita laksanakan dengan memaksakan diri. Berangkat haji dengan menerlantarkan sebegitu banyak umat ditanah air yang masih membutuhkan bantuan. Mana yang lebih bernilai? melaksanakan ibadah haji yang sebenarnya belum wajib atas diri kita, ketimbang membantu saudara-saudara kita yang barangkali saja terancam aqidahnya karena kemiskinan mereka? Mana yang lebih bernilai? Melaksanakan ibadah haji yang hanya bernilai ibadah individual, ketimbang membiayai pendidikan puluhan anak yatim piatu dari sesama kaum muslim, yang akan meningkatkan kualitas, harkat dan martabat umat secara umum? Apalagi jika dalam pelaksanaan ibadah haji tersebut masih tersirat dalam kalbu kita unsur ria. Yaitu adanya unsur selain karena Allah dalam pelaksanaan ibadah haji kita tersebut. Misalnya, agar dipuji oleh masyarakat, agar gelar haji bisa jadi pendongkrak pamor untuk maju ke ajang pemilu/pilkada, berangkat haji sambil berwisata, berbelanja, dan lain-lain.

sebagai awam, saya berharap agar komisi fatwa MUI memfatwakan:

Bahwa bagi muslim Indonesia belum ada kewajiban untuk menunaikan Ibadah haji, karena masih banyak saudara-saudara kita sesama muslim yang miskin dan bahkan terancam aqidahnya karena kemiskinan itu. Adalah kewajiban kita bersama untuk mengentaskannya.

Bahwa bagi umat Islam Indonesia, karena belum ada kewajiban menunaikan ibadah haji, maka menyumbangkan uang bagi kemaslahatan umat minimal senilai ongkos naik haji, telah sama nilai ibadah dan pahalanya dengan berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Bagi saya kondisi ini sangat urgen untuk kita renungkan. Ibadah haji selama ini hanya menjadi "Ibadah Mercu Suar" di tengah lautan kemelaratan umat. Mereka-mereka yang mampu selalu berdalih, mereka sudah merasa "terpanggil" untuk segera berangkat haji. Mereka berangkat dengan segala rasa bangga dan bahagia. Sementara, disaat yang sama barangkali ada tetangga mereka yang sedang kelaparan, atau ada tetangga mereka yang sedang pontang-panting mencari pinjaman untuk melanjutkan pendidikan anak mereka.

Sebagian mereka yang mampu berangkat haji itu juga sering berdalih, bahwa mereka telah berhak berangkat haji. Soal masih banyak umat yang miskin, toh mereka juga sudah berinfaq dan bersedekah. Tapi sadarkah mereka? hanya berapa nilai infaq dan sedekah mereka itu? sadarkah mereka bahwa itu masih sangat kurang? Beranikah mereka bersedekah sejumlah ONH? Ikhlaskah mereka menyumbangkan ONH-nya itu? Atau memang kebanggaan menjadi haji jauh lebih berharga ketimbang menyelamatkan sesama saudara muslim?

Demikian sekelumit pemikiran "aneh" saya. Pemikiran saya ini memang tidak memiliki landasan syariat.. Tapi cobalah renungkan baik-baik....saya yakin banyak kadar kebenarannya..

Minggu, 14 September 2008

Memilih Untuk Tidak Memilih

Semenjak reformasi menggelinding di Indonesia tahun 2008 lalu, hingga sekarang, euforia demokrasi benar-benar terasa. Hampir semua aspek kehidupan diwarnai oleh semangat kebebasan. Kebebasan Pers mengalir deras bak semprotan air dari slang pemadam kebakaran. Kehidupan sosial politik juga penuh dinamika oleh berbagai perubahan yang dilandasi oleh semangat kebebasan.

Di ranah politik, perubahan itu terasa begitu drastis. Reformasi sekonyong-konyong merubah wajah perpolitikan Indonesia dari keterkungkungan otoritarian menjadi politik demokrasi liberal. Bahkan dunia internasional mengakui, bahwa saat ini Indoneisa termasuk negara yang paling demokratis di dunia. Yang paling menarik dari demokrasi politik Indonesia saat ini adalah, rakyat bisa memilih langsung pemimpinnya, mulai dari tingkat presiden sampai pada tingkat bupati/walikota.

Namun, agak unik memang Indoneisa ini. Meskipun kran kebebasan telah dibuka selebar-lebarnya, namun masih belum berimplikasi positif pada perbaikan kondisi berbangsa dan bernegara. Pemilu langsung juga demikian. Alih-alih menghasilkan pemimpin yang baik, mumpuni, serta mampu membawa kemajuan, yang lebih banyak kita dengar sebagai output dari pemilu langsung itu, tak lebih hanya cerita mengenai kisruh hasil penghitungan suara, konflik antar pendukung peserta pemilu/pilkada, soal gugat menggugat karena kalah dalam pemilihan, dan lain-lain masalah yang keseluruhannya kontra produktif bagi perbaikan kondisi bangsa.

Kondisi tersebut akhirnya memunculkan fenomena semakin banyaknya pemilih yang tidak mau lagi menggunakan hak pilihnya (golput) pada setiap ajang pemilihan pemimpin. Statistik hasil pemilu/pilkada di berbagai daerah menunjukkan bahwa kaum golput ini seringkali "menang" dalam berbagai ajang pilkada. Tak jarang jumlah suara golput jauh mengungguli jumlah suara yang diraih pemenang pilkada.

Gejala apa ini? Apakah masyarakat menjadi semakin apatis politik? Bisa jadi ya. Sebab sebagaimana yang telah disebutkan tadi, masyarakat menganggap pemilu/pilkada tidak menghasilkan perbaikan bagi kehidupan mereka. Namun jika kita berfikiran sedikit modifikatif, fenomena golput tersebut bukanlah sebuah kondisi yang negatif. Malah sebaliknya, positif.

Bisa saja orang golput, karena merasa semua kandidat itu sama, punya visi dan misi yang bagus. Tidak ada program mereka yang tidak bertujuan untuk kebaikan. Nah, jika semuanya mengusung program yang bagus, dan seandainya program-program tersebut benar-benar mampu mereka realisasikan, tentu tidak jadi masalah siapapun yang akan memenangi pemilihan. Karena pasti akan membawa kebaikan. Jadi untuk apa ikut memilih? Dalam perspektif seperti ini, orang yang menggunakan hak pilih malah patut dicurigai. Sangat mungkin motif mereka memilih hanya karena dasar primordialisme, sektarianisme, ataupun karena kedekatan psikologis dengan calon tertentu. Atau memilih hanya karena punya kepentingan yang hanya akan terakomodir jika calon tertentu yang memenangi pemilihan. Bukankah kondisi yang demikian malah merupakan potensi masalah? Primordialisme dan sektarianisme hanya akan merusak ke-bhinekaa-an dalam NKRI. Memilih karena dasar suka/tidak suka secara psikologis terhadap seorang calon, juga bukan sebuah ukuran yang objektif. Terlebih lagi kalau memilih atas dasar kepentingan. Malah akan menjadi embrio makin parahnya KKN jika pemimpin yang dipilih menjabat kelak.

Jadi, jika dasarnya untuk tercapainya kebaikan bersama, pemilih yang paling ideal justru adalah mereka yang golput. Bagi kaum golput, tidak menjadi masalah siapa saja yang menjadi pemimpin, asal berorientasi pada kebaikan bersama. Dan bukankah sebenarnya golput itu juga sebuah pilihan? Yaitu “memilih untuk tidak memilih”. Jadi, tidak menjadi persoalan jika orang memilih untuk tidak memilih. Apalagi kalau patisipasi politik dari rakyat, dengan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu/pilkada, hanya dibutuhkan sebagai alat untuk legitimasi kekuasaan belaka..lebih baik golput saja….

Jumat, 12 September 2008

Dua, Sepasang, Kembar

Ada makna yang tumpang tindih pada kata-kata judul diatas. Dua adalah jumlah objek tertentu setelah satu. Sepasang juga dua, jika dilihat dari jumlah objeknya. Kembar juga dua dari segi jumlah objek. Tak gampang juga memilah-milah penggunaan kata-kata tersebut.

Kata dua, sangat jelas penggunaannya. Setelah satu, ya dua. Sepasang, biasanya digunakan orang untuk menjelaskan dua kata yang saling berlawanan tapi saling melengkapi. Seperti kiri-kanan untuk alas kaki, laki-laki dan perempuan, suami-istri, dan lain-lain. Tetapi walaupun tidak berlawanan dan tidak saling melengkapi, kadang orang juga memberi label sepasang untuk objek tersebut. Misalnya, dalam contoh kalimat, "pada turnamen itu Indonesia hanya mengirim sepasang ganda putra". Kemudian kata kembar. Biasanya orang menyebut kata kembar untuk menjelaskan dua objek yang mirip atau bahkan sama persis. Misal dua menara WTC yang runtuh karena serangan teroris pada 11 September 2001, disebut Twin Tower (menara kembar). Namun, kata kembar tidak melulu menjadi padanan kata dua. Kembar juga digunakan untuk sesuatu yang sama atau mirip walau berjumlah lebih dari dua.

Tapi anehnya kata kembar juga digunakan untuk jadi keterangan kata untuk dua objek atau lebih yang tidak sama atau tidak mirip. Contohnya, ada istilah program kota kembar, yang melibatkan beberapa kota. Padahal sama sekali tidak ada kemiripan pada kota-kota tersebut. Bayi yang lahir dua atau lebih juga disebut bayi kembar walaupun mereka tidak mirip satu sama lain. Bahkan walaupun jenis kelamin mereka berbeda, tetap saja disebut bayi kembar. Agak rancu memang penggunaan kata-kata, dua, sepasang, dan kembar, tersebut.

Namun bagi saya kata-kata tersebut memiliki makna tersendiri. Ada satu rangkaian kalimat yang bisa saya susun dengan unsur ketiga kata tersebut, yang mewakili kehidupan saya saat ini. Yaitu: Pada 14 Agustus 2008, SEPASANG suami istri, dikarunia anak KEDUA, KEMBAR laki-laki. Itulah keluarga saya saat ini....

Persepsi

Barangkali setiap individu ingin dipersepsikan positif oleh individu-individu lain pada berbagai lingkungan sosialnya. Orang akan merasa bangga jika merasa dirinya dipersepsikan positif oleh orang lain. Karena persepsi positif tersebut akan berujung dengan perolehan pengakuan atas kapabilitas dirinya, pujian, penghargaan, dan lain-lain, yang keseluruhannya itu mampu mengisi kebutuhan batin seorang manusia akan eksistensi diri. Sebuah kebutuhan pada hierarki tertinggi bagi seorang manusia.

Tentu sangat membanggakan, jika kita memperoleh persepsi positif dari lingkungan, dan sepanjang tidak berlebihan, tidak ada yang salah dengan rasa bangga itu. Namun, tentunya jika persepsi tersebut memang sesuai dengan kenyataan apa adanya yang memang ada pada diri kita.

Namun sebaliknya, akan menjadi beban yang teramat berat, jika persepsi positif tersebut sebenarnya tidak terlalu tepat, atau malah berlebihan, dialamatkan pada diri kita. Karena bisa jadi persepsi positif tersebut kita dapat karena kesimpulan orang lain tentang diri kita terlalu prematur, kurang dasar pertimbangan, atau bahkan karena sebuah kamuflase yang sengaja maupun tidak sengaja kita tampilkan. Atau bisa saja orang memberi persepsi positif tentang diri kita secara pukul rata. Kita dianggap/dinilai positif untuk semua hal, hanya karena beberapa hal yang telah kita lakukan kebetulan sangat memuaskan dan bernilai positif bagi orang-orang yang menilainya. Seperti seorang bawahan yang kebetulan berhasil membuat puas atasannya karena telah mengerjakan beberapa tugas dari atasannya tersebut dengan baik, sehingga sang atasan berkesimpulan si bawahan ini adalah seorang staf yang handal. Padahal belum tentu demikian.

Nah, saat ini saya sedang mengalami kondisi tersebut. Persepsi positif lingkungan terhadap saya, saya rasa sangat berlebihan. Orang-orang terlalu over estimate terhadap diri saya, dalam segala hal. Ini membebani saya. Karena ada ekspektasi yang berlebihan dari lingkungan terhadap diri saya. Harusnya saya bisa menyikapinya secara positif. Yaitu dengan menjadikannya sebagai salah satu energi pendorong agar apa-apa yang dipersepsikan positif oleh orang-orang itu, benar-benar mampu saya lakukan dan benar-benar menjadi sesuatu yang inheren dengan diri saya. Namun, itulah. Bagi saya itu cuma menjadi beban yang kadang berpengaruh negatif pada ritme hidup saya. Karena terkadang menyebabkan kita seolah terpenjara untuk harus bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan persepsi dan ekspektasi orang terhadap diri kita. Kita tidak bisa lagi menjadi diri kita yang sebenarnya dan apa adanya secara utuh. Ya...mungkin memang benar juga syair lagunya Ahmad Albar, bahwa dunia ini, panggung sandiwara.....

Atau barangkali kita juga sering salah mempersepsikan apa sebenarnya persepsi orang tentang diri kita...? Sehingga kita merasa harus bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan persepsi kita mengenai apa persepsi orang terhadap diri kita? Hmmm... rumit dan tidak sederhana bukan? Pantas saja terori-teori berbasis paham interaksionisme simbolik terasa begitu abstrak untuk dipahami dibangku kuliah dulu.....kadang terasa terlalu absurd..

Rabu, 06 Agustus 2008

Over Load

Belakangan ini saya merasakan dilema dalam bekerja. Pada satu sisi saya senang dan bangga, karena beberapa pekerjaan yang dibebankan oleh atasan pada saya bisa saya selesaikan dengan baik dan tepat waktu, dan outputnya mendapat apresiasi yang bagus dari atasan. Atasan terlihat puas dengan hasil pekerjaan saya. Bahkan pernah juga terlontar pujian dari atasan atas kinerja saya. Namun, disisi lain kondisi itu malah menjadi "bumerang" buat saya. Saya jadi sangat dipercaya. Mendadak, berbagai macam tugas dan tanggung jawab dibebankan pada saya. Padahal, menurut saya beberapa diantaranya saya tidak akan mampu mengerjakannya dengan optimal. Namun, karena terlanjur diyakini mampu dan dipercaya, atasan tetap mempercayakan berbagai pekerjaan itu pada saya. Sebagai bawahan, saya tentu tidak punya alternatif pilihan, selain melaksanakannya.

Sekarang, saya benar-benar terbebani oleh pekerjaan tersebut. Udah over load rasanya. Kadang energi, baik fisik maupun fikiran, serasa tidak mampu lagi digenjot. Ibarat komputer yang terlalu banyak Runing Program sekaligus, ia malah jadi lelet, bahkan bisa hang. Yang lebih menyedihkan, saya jadi tidak bisa lagi menikmati hidup. Anak istri jadi sering terabaikan, karena beberapa pekerjaan terpaksa dibawa pulang ke rumah untuk mengejar deadline. Rutinitas olah raga saya juga jadi terganggu. Kondisi fisik jadi tidak stabil. Sekarang saya cuma berharap semoga penyakit tidak segera datang menggerogoti tubuh. Sedangkan untuk kesehatan mental dan jiwa, saya belum punya solusi untuk kembali me-refresh-nya..

Senin, 30 Juni 2008

Pendiam....

Ayah saya mungkin termasuk orang yang sangat pendiam. Agak susah ngajak beliau ngobrol panjang lebar. Bahkan dengan anggota keluarga dan kerabatnya sendiri, ayah cenderung bicara seperlunya saja.

Saya tidak bisa memastikan penyebab kenapa ayah begitu pediam. Kata orang, orang pendiam itu bisa jadi karena dia rendah diri. Ada juga yang bilang orang pendiam itu karena pengetahuan/wawasannya sempit, sehingga dia tidak punya banyak bahan untuk bicara/ngobrol panjang lebar. Ada juga yang bilang orang jadi pendiam pada situasi sosial tertentu karena ia merasa tidak perlu banyak bicara pada situasi tersebut. Apapun itu, yang pasti ayah saya sangat pendiam dalam segala situasi dan kondisi.

Namun, walau pendiam, ayah saya pernah bikin orang keki. Suatu ketika, saat ngantri uang pensiun, beliau ketemu dengan salah seorang temannya saat masih bekerja. Baru kali ini mereka ketemu saat sama-sama ngantri uang pensiun setelah bertahun-tahun tidak pernah ketemu. Sebagaimana layaknya dua orang teman yang sudah lama tidak bertemu, mereka terlibat obrolan ringan, antara lain ngobrol soal kondisi keluarga masing-masing. Seperti biasa, ngobrol dengan siapapun dan membicarakan masalah apapun, ayah selalu bicara dan menjawab seperlunya.

"Gimana keadaanmu sekarang?" tanya si teman ayah basa-basi memulai obrolan. Ayah menjawab singkat, "Alhamdulillah baik". Si teman ayah melanjutkan, "Aku sekarang lumayan enaklah, anak-anak udah pada berhasil. Mereka bisa sekolah sampai perguruan tinggi, lanjutnya. Kemudian ia menyebut perguruan tinggi-perguruan tinggi swasta di Padang tempat anak-anaknya kuliah. Anakku yang sulung malah udah jadi bidan sekarang, dan banyak bantu-bantu biaya kuliah adik-adiknya", kata si teman ayah bangga. Ayah mendengar dengan penuh perhatian sambil sesekali mengangguk-angguk dan mengulum senyum, kemudian berkomentar singkat, "Alhamdulillah kalau begitu. Si teman ayah yang merasa udah di "atas angin" dan sedikit under estimate pada kondisi ayah sekarang, karena ia lihat ayah cuma diam dan gak bercerita apa-apa soal anak-anaknya, kemudian bertanya, "anak-anakmu gimana sekarang"? "Alhamdulillah juga baik" kembali ayah menjawab singkat. "Udah pada selesai mereka sekolah"? kejar si teman ayah. "Yang sulung udah, dan adik-adiknya masih sedang kuliah", jawab ayah. "Yang sulung itu udah dapat kerja"? si teman ayah terus mengejar. "Alhamdulillah sudah", jawab ayah pelan. "Kerja dimana"? Si teman ayah makin tak sabar bertanya. "Di rumah sakit Dr. Achmad Muchtar" (RSUP di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat), jawab ayah masih dengan suara datar. "Ooo...kerja sebagai apa? perawat ya"? si teman ayah menyimpulkan. Ayah sedikit terdiam, trus dengan tetap berusaha bernada wajar beliau menjawab, "bukan perawat...., dokter". Si teman ayah terlihat gelagapan. Sejenak dia tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata. Setelah hening beberapa saat, si teman ayah kembali bertanya, "adik-adiknya kuliah dimana”? kali ini nada suara si teman ayah lebih rendah dan terkesan hati-hati… Ayah sebenarnya sudah enggan menjawab. Beliau sudah tidak enak hati karena temannya itu gelagapan mendengar jawabannya yang terakhir tadi. Tapi karena kelihatannya si teman ayah itu memang ingin sekali mendengar jawaban ayah, ayah kembali menjawab singkat, “untungnya mereka kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, karena kami gak akan mampu biayai kalau mereka kuliah di swasta. Baru inilah jawaban ayah yang disertai keterangan. Berikutnya si teman ayah benar-benar tidak bicara lagi…dan ayah makin jadi tidak enak hati.

Begitulah ayah saya. Si pendiam yang sangat tidak mau menonjol-nonjolkan diri dan keluarganya. Namun sifat diamnya itu kadang dianggap orang sebagai sebuah bentuk kesombongan juga. Seperti cerita di atas, si teman ayah menganggap ayah melakukan kesombongan pasif (kalau boleh diistilahkan demikian). Padahal, saya yakin betul, ayah benar-benar tidak bermaksud membuat temannya itu merasa kalah. Beliau Cuma menjawab apa adanya, karena memang begitulah beliau dari dulunya.

Senin, 23 Juni 2008

Profesi Yang "Membunuh" Nasionalisme

Hingar bingar Euro 2008 belum mencapai puncaknya. Namun, dari pesta sepakbola benua biru itu ada hal penting yang patut jadi bahan diskusi, yaitu soal nasionalisme. Jika anda memang penggemar sepakbola, atau setidaknya tertular demam sepakbola selama perhelatan Euro 2008, pasti melihat beberapa momen "menarik" berkaitan dengan nasionalisme. Antara lain:
Striker Jerman, Lucas Podolsky, terlihat dingin, nyaris tanpa ekspresi dan tidak melakukan selebrasi selepas mencetak gol ke gawang Polandia di babak penyisihan group. Podolsky adalah pemain Jerman berdarah Polandia.
Juga terjadi pada babak penyisihan group, striker Swiss, Hakan Yakin, yang keturunan Turki, juga memperlihatkan perilaku yang sama, dingin dan tanpa selebrasi setelah melesakkan gol ke gawang Tim Nasional tanah leluhurnya itu.
Guus Hidink, pelatih Rusia berkebangsaan Belanda terlihat begitu gembira dan berjingkrak-jingkrak kegirangan ketika tim asuhannya membekap Belanda 3 - 1 pada babak perempat final.
Ada ironi dalam tiga contoh momen di atas. Para pemain terlihat "menyesal" menjebol gawang tim lawan yang kebetulan adalah tim dari tanah leluhur mereka. Namun, pelatih, malah memperlihatkan sikap sebaliknya.
Para pemain seperti Lucas Podolsky dan Hakan Yakin, terlihat seolah masih memiliki nasionalisme ganda. Di satu sisi ingin memberikan kemenangan untuk tim negara mereka saat ini, namun disisi lain mereka juga seolah tidak tega melihat tim dari tanah leluhur mereka itu "terluka" oleh gol yang mereka buat. Sebab gol mereka itu tentunya juga "melukai" hati seluruh warga negara leluhur mereka tersebut. Akan tetapi perasaan seperti yang dirasakan oleh kedua pemain itu agaknya tidak dirasakan oleh Guus Hidink. Seolah tak berperasaan, Hidink mengiris-iris hati semua orang Belanda dengan ekspresi bahagianya ketika tim asuhannya Rusia mengalahkan Belanda.
Kenapa ironi seperti itu muncul? Tentunya karena Profesi. Para pemain saat membela negara mereka dalam ajang antar negara tidak dibayar sebagaimana ketika mereka membela klub mereka masing-masing. Sedangkan pelatih, sebagaimana halnya Guus Hidink, dibayar dengan nilai yang tinggi ketika melatih sebuah tim nasional suatu negara dalam suatu ajang seperti Euro 2008 ini. Konsekwensinya, ia harus menjalankan profesinya itu secara profesional, termasuk dengan "membunuh" rasa nasionalisme. Makanya Hidink bisa bersuka cita disaat seluruh saudara sebangsa dan setanah airnya mengalami duka cita yang mendalam. Ternyata profesi sebagai pelatih sepakbola bisa mengikis bahkan "membunuh" rasa nasionalisme.