Senin, 03 November 2008

RIMBAWAN

HAI PERWIRA RIMBA RAYA
MARI KITA BERNYANYI
MEMUJI HUTAN RIMBA DENGAN LAGU YANG GEMBIRA
DAN NYANYIAN YANG MURNI

MESKI SEPI HIDUP KITA
JAUH DI TENGAH RIMBA
TAPI KITA GEMBIRA SEBABNYA KITA BEKERJA
UNTUK NUSA DAN BANGSA

RIMBA RAYA RIMBA RAYA
INDAH PERMAI DAN MULIA
MAHA TAMAN TEMPAT KITA BEKERJA

RIMBA RAYA MAHA INDAH
CANTIK MOLEK PERKASA
MENGHIBUR HATI SUSAH
MENYOKONG NUSA DAN BANGSA
RIMBA RAYA MULIA

DI SITULAH KITA KERJA
DISINAR MATAHARI
GUNUNG LEMBAH BERDURI
HARUSLAH KITA ARUNGI
DENGAN HATI YANG MURNI

RIMBA RAYA RIMBA RAYA
INDAH PERMAI DAN MULIA
MAHA TAMAN TEMPAT KITA BEKERJA

Kamis, 30 Oktober 2008

Kembali Ke Jogja


Setelah hampir dua tahun semenjak terakhir kali berada di Kota Jogjakarta, akhirnya saya kembali berkesempatan menjejakkan kaki di Kota Pelajar dan Kota Budaya tersebut. Hampir tak ada yang berubah. Jogja masih tetap memberi kenyamanan bagi setiap pengunjungnya. Sikap ramah dan bersahabat masyarakatnya masih tetap sama. Dan yang lebih penting, terutama bagi pengunjung berkapasitas kantong terbatas seperti saya, indeks biaya hidup rata-rata di Kota Jogjakarta masih tetap sama, relatif murah dibanding kota-kota lain di Indonesia…

Kalaupun ada yang sedikit berubah, antara lain. Kota Jogja telah memiliki busway sebagai moda transportasi umum (saya baru tahu). Namun, busway di Jogja tidak seperti busway-nya Jakarta. Busway di Jogja hanya menggunakan armada bis ukuran tiga perempat. Ini tentu saja karena rata-rata jalan raya di Jogja tidak terlalu lebar, bahkan bisa dibilang sempit, apalagi jika dibanding dengan jalan raya di Jakarta. Karena itu, penggunaan bis ukuran tiga perempat memang dirasa paling ideal. Selain itu, jalur bisnya pun tidak diberi separator yang menjadi pembatas jalur khusus bis dengan kendaraan-kendaraan lain seperti jalur khusus busway di Jakarta. Jalur khusus busway hanya diberi tanda dengan marka jalan, yang tentu saja menyebabkan kendaraan lain masih bisa dengan leluasa menggunakan lajur khusus busway tersebut. Ini tentunya juga karena alasan jalan raya di Kota Jogja sudah terlalu sempit untuk di beri lagi pembatas lajur khusus busway. Namun, terlepas dari itu semua, keberadaan busway di Kota Jogjakarta ini cukup bermanfaat. Paling tidak, dengan adanya busway, pengguna transportasi umum di Jogja bisa menikmati perjalanan yang lebih nyaman. Sebab, selain karena armada angkutan umum di Jogja rata-rata telah uzur, dengan sistem transportasi busway yang telah didisain sedemikian rupa, tentu mampu mengeliminir persoalan angkutan kota sebagaimana yang biasa kita rasakan, seperti masalah keamanan dalam bis, masalah sesama bis yang balapan berebut penumpang, dan lain-lain.

Perubahan lain adalah, Pasar Klitikan di Jalan Pangeran Mangkubumi sudah tidak ada. Telah direlokasi ke suatu tempat yang saya lupa lokasinya. Pasar klitikan adalah semacam pasar loak berbagai jenis barang. Tidak semuanya juga barang bekas. Ada juga barang baru diperjual belikan di sana. Selain tempat jual beli barang-barang yang umum diperdagangkan, di pasar klitikan juga bisa ditemukan berbagai barang yang mungkin sulit untuk ditemukan ditempat lain. Seperti onderdil kendaraan yang mungkin langka, peralatan audio tua seperti pemutar piringan hitam, dan benda-benda "aneh dan langka" lainnya yang tentunya memang bekas. Nah, sebelum direlokasi, pasar klitikan ini digelar setiap malam di sepanjang jalan Pangeran Mangkubumi yang memilik panjang hampir 1 Km. Pada ujung selatan Jalan Mangkubumi ini terdapat Stasiun Tugu, stasiun utama di Jogjakarta. Dari Stasiun Tugu, terus kearah selatan, hanya dibatasi oleh perlintasan kereta, ada Jalan Malioboro yang terkenal itu. Nah, kondisi demikian menyebabkan keberadaan pasar klitikan di sepanjang Jalan Mangkubumi yang bersambungan dengan Stasiun Tugu dan Jalan Malioboro hingga batas kawasan keraton, menyebabkan suasana malam di Jogja terasa semarak dan selalu ramai. Semenjak pasar klitikan ini direlokasi, suasana tersebut tidak terasa lagi. Namun, memang suasana dilokasi tersebut jadi terlihat lebih rapi dan tertata karenanya.

Dalam Kunjungan kali ini saya juga menyempatkan kembali mengunjungi komplek Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Cukup berkesan, karena kali ini saya menyewa seorang guide. Tak rugi memang, karena melalui penuturan sang guide yang terlihat fasih itu, banyak hal bisa saya fahami seputar keraton Kesultanan Jogja dan falsafah-falsafah budaya yang melingkupinya. Kunjungan tersebut juga bertepatan dengan persiapan akan dilaksanakannya pisoanan ageng. Yaitu peristiwa semacam open housenya sang sultan dengan rakyatnya. Isu soal suksesi Sultan sebagai Gubernur dan rencana akan majunya Sultan sebagai capres pada pemilu 2009 nanti, menjadi isu yang akan dibicarakan oleh Sultan dengan rakyatnya dalam pisoanan ageng tersebut.

Merasakan Kekurangan Air


Saya baru saja mengikuti Pembekalan Teknis dan Manajerial Bagi Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Wilayah Indonesia Bagian Barat, di Cilampuyang Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Kegiatan pembekalan tersebut terbilang singkat, hanya satu minggu.

Namun, kondisi Cilampuyang yang sedemikian rupa, membuat kegiatan yang satu minggu tersebut memberikan berbagai kesan dan pengalaman tersendiri, yang belum pernah saya rasakan pada kegiatan-kegiatan sejenis sebelumnya, antara lain merasakan kekurangan air. Saya pernah beberapa kali mengikuti kegiatan pembekalan, pelatihan, maupun penyegaran. Tempat pelaksanaannya juga beragam. Pernah di Balai Diklat Kehutanan, di Balai Diklat Pemda, di Pusdiklat Kehutanan, dan bahkan pernah di hotel berbintang empat di Ibu Kota Negara Jakarta. Dari berbagai tempat tersebut, walau tingkat kondisi sarana dan prasarananya bervariasi, namun ketersediaan air - terutama untuk kebutuhan MCK - sangat memadai. Bahkan tidak terbatas.










Nah, di Cilampuyang kondisinya bertolak belakang. Hari pertama saat saya tiba, saya tidak bisa langsung mandi, karena sama sekali tidak ada air di kamar mandi asrama. Terpaksa, dalam kondisi lelah dan lecek karena habis menempuh perjalanan jauh dari Padang, saya langsung beristirahat dan tidur. Tidak nyaman tentu saja. Menurut panitia, air baru besok bisa mengalir. Lokasi tempat kegiatan ini memang berada diperbukitan yang tentunya sulit air. Walaupun musim kemarau belum memasuki puncaknya.

Ternyata sumber air yang dijanjikan akan mengalir tersebut juga sangat terbatas. Air dibawa dari Bandung dengan mobil tanky berkapasitas lebih kurang 5.000 Liter. Air dari tanky tersebut di pindah ke reservoir penampungan. Dari reservoir, air kemudian dialirkan ke bak-bak penampungan di beberapa kamar mandi yang ada di asrama peserta. Susahnya, air cuma dialirkan ke kamar mandi dua kali sehari. Dini hari untuk kebutuhan mandi pagi, dan siang hari untuk kebutuhan mandi sore. Begitu bak-bak dikamar mandi terisi penuh, air berhenti mengalir.

Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan mandi, baik pagi maupun sore, serta buang hajat tentunya, menjadi suatu kebutuhan yang memerlukan perjuangan dan kesabaran yang luar biasa untuk memenuhinya. Jumlah kamar mandi yang hanya 8 unit dan dengan bak-bak air yang relatif kecil, harus kami gunakan untuk 70 orang peserta. Kami harus saling berebut duluan jika ingin mandi agak berkualitas, yaitu mandi dengan kondisi air yang cukup dan bersih. Jika dapat giliran-giliran terakhir, mandilah dengan beberapa gayung air saja, yang mudah-mudahan masih bersih. Selain itu, kami harus menyetel jam biologis kami untuk buang hajat sesuai dengan ketersediaan air. Jangan sampai mau buang hajat saat air tidak ada!

Pada hari pertama, mulai jam 6 pagi, kami antri panjang untuk mandi. Saya berpikir, besok harus bangun paling awal untuk bisa mandi duluan. Ternyata teman-teman lain berpikiran sama. Alhasil jam 4 dini hari telah terjadi antrian mandi!! Sial…

Demikianlah pengalaman kekurangan air di Cilampuyang. Tapi kami sebagai rimbawan tidak cukup cengeng untuk menganggap itu sebagai pengalaman buruk, apalagi sampai menimbulkan trauma. Kami terlalu tangguh untuk takluk hanya oleh kendala susah mandi dan hajat saja. Kami tetap mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, antusias, fokus, demi tercapainya tujuan kegiatan tersebut, yaitu menjadikan kami sebagai Pejabat Fungsional PEH yang berwawasan dan berpengetahuan luas, berintegritas, berorientasi berbuat yang terbaik bagi masyarakat dibidang kehutanan, dan tentu saja TIDAK CENGENG!!!

Dan ternyata, kondisi kekuarangan air tersebut juga memiliki makna dan hikmah tersendiri bagi kami, Pejabat Fungsional PEH Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Direktorat Jenderal RLPS memiliki tugas pokok dan fungsi dalam merehabilitasi hutan dan lahan serta melaksanakan konsep perhutanan sosial sehingga berimplikasi pada konservasi tanah dan air. Intinya, kami bekerja dalam rangka menjamin keberlanjutan ketersedian air sebagai sumber kehidupan.

Dengan mengalami kekurangan air selama di Cilampuyang, menyebabkan kami tersadar betapa tidak nyamannya jika air tidak tersedia dengan cukup. Kesadaran yang demikian mendorong kami untuk lebih optimal bekerja. Sebab jika kami tidak optimal bekerja, kondisi tanah dan air akan makin terdegradasi. Akibatnya, bukan kami saja yang pernah mengalami kekurangan air, tetapi BANGSA INI JUGA AKAN MERASAKAN PENDERITAAN KARENA KEKURANGAN AIR.

Rabu, 15 Oktober 2008

Orang Jogja Rusuh?? Aneh......

Sebelumnya saya pernah membahas mengapa suporter sepakbola di Pulau Jawa suka rusuh. Saya kembali tertarik membahas hal ini, karena beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah pertandingan sepakbola lanjutan kompetisi divisi utama Liga Indonesia, kembali terjadi kerusuhan antar suporter kedua tim yang bertanding. Menariknya, kali ini suporter rusuh dalam pertandingan derby Daerah Istimewa Yogyakarta, PSIM Yogyakarta versus PSS Sleman!!

Kenapa menarik? Menariknya, karena ada paradoks seperti yang pernah saya bahas dalam tulisan sebelumnya. Orang Jogja yang santun bisa tiba-tiba brutal di sekitar stadion Maguoharjo Sleman setelah menonton pertandingan sepakbola. Mereka tawuran, merusak dan saling serang. Dan lebih mengherankan lagi tawuran terjadi antar sesama Orang Jogja. Orang Jogja gitu loh? Orang Jogja rusuh? Bagi anda-anda yang pernah menetap di Jogja, ini terasa aneh.

Saya sempat menetap dua tahun di Jogja. Jogja Kota yang damai dan tentram. Penduduknya ramah dan sangat-sangat bersahabat. Di Jogja anda tidak perlu khawatir, apa lagi takut, keluar masuk gang atau perkampungan. Tidak akan ada preman-preman kampung yang lagi nongkrong di sudut-sudut gang dan dengan wajah sangar menatap anda dengan pandangan menakutkan, atau menginterogasi anda dengan kasar, atau bahkan memalak anda. Jika dikota-kota lain juru parkir biasanya “brengsek”, di Jogja sangat ramah. Mereka akan melayani anda ditempat parkir dengan santun. Dan ketika anda membayarkan uang parkir pada mereka, mereka akan menunduk hormat dan berterima kasih dengan takzim saat menerima uang dari anda. Selain itu, sebut saja, kernet bis kota, tukang becak, kuli bangunan, dan lain-lain golongan, yang kalau dikota-kota lain biasanya berprilaku kasar, di Jogja, mereka semua begitu santun, ramah dan bersahabat. Bahkan para pemabuk dan kriminal pun tetap saja terkesan santun saat mereka normal. Ya seperti yang saya bahas dulu. Memang tidak ada budaya “kasar” pada orang Jogja.

Bahkan jika anda cermat, di Jogja, angka kejadian kriminal yang menonjol juga jenis-jenis kejahatan “santun”. Di banyak tempat di Jogja, banyak dipampang peringatan, “HATI-HATI, BANYAK CURANMOR”. Anda tentu tahu, pencurian kendaraan bermotor adalah jenis kejahatan yang “tidak gentlemen”. Karena pelakunya melakukan kejahatan itu dengan resiko minimal, karena pemilik kendaraan bermotor sedang tidak berada dekat dengan kendaraannya. Tak banyak kejahatan “gentlemen” di Jogja. Seperti penodongan, perampasan, jambret, atau kejahatan-kejahatan dimana pelaku berhadapan langsung dengan korban dan korban mungkin saja melakukan perlawanan. Begitulah, bahkan jika terpaksa berbuat kriminalpun, orang Jogja memilih “kejahatan yang tidak terlalu mengusik korbannya”.

Itulah Jogja. Nah, sulit dipercaya masyarakat yang demikian bisa rusuh, tawuran dan merusak bukan? Namun, kenyataannya itu terjadi. Baru-baru ini. Dipicu oleh sebuah pertandingan sepakbola. Ini membuat saya semakin yakin dengan analisa saya pada tulisan terdahulu. Bahwa memang kerumunan massa dalam wujud suporter sepakbola menjadi saluran potensi perilaku agresif dan destruktif bagi masyarakat dengan budaya “halus” seperti masyarakat Jogja dan Jawa pada umumnya.

Selasa, 07 Oktober 2008

Memulai (Lagi) Dari Titik Nol...

Setelah melaksanakan puasa Ramadhan satu bulan penuh, dan setelah ber-Idul Fitri, katanya kita kembali fitrah. Kita ibarat insan yang terlahir kembali. Bersih, tanpa noda dan dosa. Begitu memang idealnya. Tetapi, itu tentu saja jika puasa kita berkualitas dan kita memaknai Idul Fitri sebagaimana tuntunan Ajaran Islam.

Ya, semua kembali ke titik nol. Jika puasa kita benar, segala dosa kita pada sang Khalik, Insya Allah kembali nol. Segala salah dan khilaf dalam hubungan antar manusia, juga kembali nol, karena telah saling bermaafan pada momen Idul Fitri... Benarkah demikian? Yakinkah kita bahwa semuanya memang telah kembali ke titik nol? Tidak ada manusia yang mampu memastikan. Hanya Dia yang tahu.

Hanya satu yang pasti. Yaitu, banyak diantara kita yang kondisi keuangannya kembali ke titik nol!!! Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena "habis-habisan" dalam berlebaran. Selesai lebaran, kita nol lagi. Kemudian kita memulai lagi dari titik nol memperbaiki kondisi keuangan. Dengan sebuah gurauan bernada satire, beberapa teman berceloteh: "masih lumayan kalau memulai lagi dari titik nol, kami bahkan harus memulai lagi dari titik minus"... Nah...begitukah makna Idul Fitri dan berlebaran bagi sebagian dari kita?

Selasa, 23 September 2008

Lebaran... lebaran... lebaran

Lebaran…lebaran…lebaran… Yah, saban tahun, lebaran seolah menjadi orientasi hidup setiap orang Indonesia yang mengaku beragama Islam. Bagi para perantau, mereka bekerja keras sepanjang tahun, menabung, dan uangnya itu nanti akan dipakai untuk mudik dan dihabiskan di kampung saat lebaran. Yang bukan perantau, atau perantau yang memutuskan tidak perlu mudik, kondisinya sama saja. Lebaran jadi tujuan segala upaya untuk mengejar simbol-simbol kehidupan duniawi. Mereka merenovasi rumah dengan target sudah harus rampung saat lebaran. Membeli berbagai macam jenis perabotan rumah untuk lebaran. Kredit motor untuk dipakai lebaran. Beli mobil untuk jalan-jalan dan pamer saat lebaran. Memborong berbagai bahan makanan untuk keperluan selama lebaran. Belanja kebutuhan sandang untuk tampil gaya saat lebaran. Pokoknya semua berorientasi untuk lebaran.

Anak-anak kita juga terlanjur kita budayakan untuk berorientasi lebaran. Mereka diajari puasa dengan iming-iming akan dibelikan berbagai barang untuk kebutuhan lebaran; sepatu/sendal baru, beberapa pasang pakaian, mainan, handphone, play station, dan macam-macam lagi.

Orientasi terhadap lebaran ini bukan fenomena sumir. Ia memiliki implikasi sangat besar. Bahkan pada sistem keuangan negara. Tak percaya? Buktinya, oleh pemerintah gaji PNS saja terpaksa dimajukan pembayarannya. Gaji untuk Bulan Oktober 2008 dibayarkan tanggal 25 September 2008. Katanya supaya bisa dimanfaatkan oleh para PNS untuk kebutuhan lebaran. Di kantor-kantor instansi pemerintah, orientasi lebaran ini juga sangat mempengaruhi irama pelaksanaan anggaran. Para bendaharawan didorong oleh para pelaksana proyek untuk segera mencairkan pos-pos anggaran yang sekiranya bisa dimanfaatkan dulu oleh pegawai dikantor bersangkutan untuk keperluan lebaran. Para pegawai diberi Surat Perintah Tugas untuk melaksanakan perjalanan dinas. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk menambah penghasilan untuk kebutuhan lebaran. Soal apakah perjalanan dinas itu relevan atau tidak, soal bagaimana pelaksanaan pekerjaan dan bagaimana outputnya nanti, itu urusan belakangan, setelah musim lebaran usai!! Yang jelas sekarang lebaran dulu!!

Lebaran juga menggerakkan sektor riil, sekaligus juga mendongkrak inflasi karena para pedagang komoditas tertentu berlomba-lomba menaikkan harga untuk menangguk untung yang jauh lebih besar untuk kebutuhan lebaran. Selain itu perilaku konsumtif menjelang lebaran juga banyak memaksa masyarakat menjual/menggadaikan barang-barang berharga milik mereka.

Lebaran juga mendorong para perampok, penjambret, pencopet, penipu, dan para kriminal lainnya, untuk meningkatkan intensitas aksi mereka. Tujuannya tentu saja untuk memperoleh “penghasilan” lebih untuk kebutuhan lebaran.

Para gelandangan, pengemis, kaum miskin maupun kaum marginal lainnya juga makin “rajin” menjelang lebaran. Mereka makin semangat meminta-minta, memanfaatkan momen kesalehan sosial sebagian orang yang memang meningkat selama Ramadhan. Mereka juga berlomba-lomba mendatangi rumah-rumah warga untuk meminta diberi zakat. Baik zakat harta atau setidaknya zakat fitrah para penghuni rumah yang didatangi. Tujuannya juga sama, mereka juga ingin berlebaran.

Ya.. lebaran… lebaran… lebaran…..

Sabtu, 20 September 2008

Kenapa Suporter Sepakbola di Pulau Jawa Lebih Brutal?


Anda penggemar, pemerhati, atau sekedar tau persepakbolaan Indoneisa? Jika jawaban anda ya, tentu anda sangat akrab dengan cerita dan berita tentang berbagai kerusuhan, kekisruhan dan kebrutalan seputar sepak bola Indonesia tersebut. Aktornya beragam, mulai dari pemain, pengurus, ofisial, dan sudah pasti, tentu saja penonton/suporter. Kesemuanya pernah "menyumbang" untuk angka statistik kejadian-kejadian memalukan dalam sepakbola Indoneisa. Saling pukul antar pemain, pengeroyokan wasit oleh pemain dan bahkan oleh ofisial, tawuran antar suporter, suporter yang vandalis, anarkis, bahkan kriminalis, merupakan potret yang jamak dalam dunia sepak bola kita. Kondisinya sudah demikian memprihatinkan. Bahkan seorang pengamat sosial pernah melontarkan ide nyeleneh, bahwa tontonan sepak bola Indonesia harus diberi label "untuk 17 tahun ke atas", karena banyaknya unsur kekerasan didalamnya.

Namun, yang berdampak sosial lebih luas adalah ulah penonton/suporter. Suporter yang rusuh bisa saling serang, bahkan saling bunuh. Mereka juga merusak apa saja yang mereka jumpai, tak peduli itu milik pribadi, milik pemerintah, swasta atau fasilitas umum sekalipun. Kerusuhan suporter bisa menimbulkan korban manusia dan menyebabkan kerugian materil yang nilainya terkadang amat besar. Selain itu kerusuhan suporter ini mengancam bahkan merusak ketenangan hidup masyarakat. Menimbulkan kecemasan dan trauma psikologis bagi khalayak.

Apakah anda cukup memperhatikan? Ternyata kasus-kasus kerusuhan suporter sepak bola Indonesia itu hanya banyak terjadi di Pulau Jawa saja. Berkali-kali kita dengar, yang rusuh itu Bonek-nya Persebaya Surabaya, Bobotoh-nya Persib Bandung, Jak Mania-nya Persija, Aremania-nya Arema Malang, dan lain-lain. Berkali-kali klub-klub tersebut terpaksa menerima sanksi gara-gara ulah rusuh suporter mereka sendiri. Pernahkah anda mendengar suporter PSMS Medan rusuh? atau suporter PSM Makasar? suporter Persipura? dan suporter klub-klub lainnya di Luar Pulau Jawa? Hampir tidak pernah. Kalaupun ada, skalanya kecil, hampir tidak berarti.

Pertanyaannya, kenapa suporter sepakbola di Pulau Jawa begitu gampang rusuh? sedangkan suporter sepakbola diluar Pulau Jawa cenderung adem-adem saja? Pertanyaan ini menjadi menarik, karena ada ironi. Etnis-etnis penghuni Pulau Jawa yang secara kultural kita kenal, adem, ramah, santun, ewuh pakewuh, tipo siliro, dan lain-lain, kenapa menjadi sangat brutal ketika menjadi suporter sepakbola? sebaliknya etnis-etnis di luar Pulau Jawa yang secara kultural pencitraannya; berwatak keras, lugas, kurang basa basi, dan lain-lain, malah tidak pernah rusuh di arena sepakbola. Ironis bukan?

Banyak sosiolog, antropolog, dan ahli psikologi massa yang telah menjelaskan fenomena ini. Pernah di satu tabloid seorang ahli membahas, bahwa penonton sepakbola di Jawa gampang rusuh berkaitan dengan falsafah hidup orang Jawa itu sendiri. Kesimpulannya kurang lebih begini. Etnis Jawa sangat mementingkan harmoni dalam kehidupan mereka. Mereka juga sangat mengagungkan martabat dan kehormatan. Nah, sebuah kekalahan bagi mereka adalah gangguan terhadap harmoni kehidupan mereka, karena telah mencederai martabat dan kehormatan mereka. Jadi identifikasi diri yang terlalu kuat terhadap klub sepakbola yang mereka dukung, menyebabkan mereka merasa tercabik-cabik rasa bangga akan martabat dan kehormatannya itu. Oleh karena itu mereka gampang marah dan rusuh jika klub yang mereka dukung kalah. Bagaimana menurut anda analisa tersebut?

Bagi saya, fenomena rusuh suporter sepak bola di Pulau Jawa tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut. Pada dasarnya, manusia dari etnis apa saja, punya potensi sifat-sifat agresif dan destruktif. Namun pada etnis Jawa secara umum, sifat-sifat seperti itu tidak mendapat tempat penyaluran dalam budaya mereka. Budaya mereka hanya memberi tempat pada sikap yang santun, ramah, sopan, manut/patuh, dan perilaku-perilaku lembut lainnya. Ini terlihat dari bahasa, gerak tubuh dan perilaku orang Jawa sehari-hari. Anda bisa rasakan ini jika anda berada dan bergaul di pulau Jawa pada umumnya. Pernahkah anda ke Parahyangan, Jogja atau Solo? jika pernah, pasti anda bisa rasakan betapa santunnya masyarakat disana dalam bergaul, baik bertutur maupun bertingkah laku. Nah, karena tidak ada tempat untuk perilaku agresif, destruktif, mereka cenderung menekan sifat itu. Namun ia tetap ada, hanya disembunyikan atau ditekan untuk tidak muncul dalam pergaulan sehari-hari, karena memang lingkungan mereka tidak bisa menerima perilaku seperti itu. Lama-lama akan terakumulasi dan butuh penyaluran untuk muncul kepermukaan. Nah, akhirnya potensi perilaku agresif dan destruktif itu mendapat tempat penyalurannya saat mereka lebur dalam sebuah kerumunan massa berbentuk suporter sepak bola, dimana identitas mereka secara orang perorang lebur, tidak gampang diketahui dan terlindungi oleh identitas mereka sebagai kumpulan massa. Disanalah mereka lampiaskan semua potensi sikap agresif dan destruktif yang terpendam. Begitu ada pemicunya, yaitu kekalahan tim sepakbola yang mereka dukung, meledaklah semua, dan ledakannya tentu sangat dahsyat.

Kondisi seperti ini tidak terjadi pada etnis diluar Pulau Jawa. Budaya mereka tidak "halus" seperti di Pulau Jawa. Mereka lebih spontan, apa adanya, blak-blakan, dan lain-lain. Lihat saja orang Sumatera Utara, orang Makasar, Papua dan lain-lain. Suara dan bicara mereka keras, lantang dengan logat yang tegas. Mereka lebih lugas dalam menyatakan pendapat. Mereka terbiasa bereaksi secara keras terhadap sesuatu yang dianggap kurang berkenan bagi mereka. Tidak ada hal yang disimpan-simpan, semua dilontarkan, walau kadang terkesan "kasar". Begitu mereka jadi suporter sepakbola, tidak ada akumulasi prilaku agresif, kasar dan agresif yang perlu disalurkan. Karena itu jarang terjadi kerusuhan suporter sepakbola di luar Pulau Jawa.