Kamis, 15 Januari 2009

Freddy Kanoute



Anda Muslim? Banggakah anda dengan identitas ke-Islam-an anda? Jika tidak, anda harus kagum dan malu pada Freddy Kanoute! Siapa Freddy Kanoute? Bagi para bola mania, Kanoute tentu bukan nama yang asing. Dia adalah tombak tajam Sevilla, salah satu club anggota La Liga (Kompetisi Sepak Bola Divisi Utama Spanyol). Kanoute seorang Muallaf. Dia memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu Prancis dan Mali.

Baru-baru ini, ada aksi Kanoute yang membuat saya kagum padanya. Seperti tampak pada foto diatas. Kanoute merayakan gol-nya ke gawang Deportivo La Coruna dalam sebuah pertandingan La Liga, dimana akhirnya Sevilla menang 2-1. Usai mencetak gol, dan sedikit selebrasi dengan rekan-rekan se-tim-nya, Kanoute menyibakkan kostumnya untuk memperlihatkan kaos dalam yang ia kenakan, yang bertuliskan Palestina dalam huruf Latin dan Arab. Menurut Kanoute, aksinya itu adalah bentuk ekspresi dukungannya kepada Rakyat Palestina yang sedang mengalami ketidakadilan atas tindakan biadab Israel. Gara-gara aksinya itu, Kanoute diganjar sanksi denda oleh Federasi Sepakbola Spanyol. Namun, Kanoute menyatakan tidak menyesali tindakannya itu. Dengan tegas Kanoute berkomentar, sebagaimana yang dikutip dari cyber sabili; “Itu adalah sesuatu yang saya rasa harus saya lakukan. Setiap orang mesti menunjukkan rasa ikut bertanggungjawab manakala berlaku ketidakadilan besar seperti itu. Seratus persen saya bertanggungjawab pada apa yang telah saya lakukan dan saya tidak peduli dengan sanksi (denda)”.

Tentu kita patut kagum dan malu pada Kanoute. Sebagian kita kadang tidak bangga atau bahkan malu mengungkapkan identitas ke-Islam-an kita. Sementara, Kanoute yang Muallaf, dengan istiqomah berani memperlihatkan identitasnya sebagai seorang muslim dan dengan lantang berani membela saudara-saudara seimannya di Palestina yang sedang dijadikan target pembantaian oleh yahudi. Dan catat! Kanoute melakukannya ditengah-tengah komunitas non-muslim. Di dalam sebuah stadion di sebuah negara barat sekuler , Spanyol. Aksinya dilihat oleh seluruh dunia, karena publikasi oleh berbagai media di seluruh dunia.

Sikap berani dan istiqoamah Kanoute ini patut kita kagumi. Jika kita berani mengekspose ke-Islam-an kita di sini, di negara yang mayoritas muslim, tentu hal yang wajar dan sudah seharusnya. Kanoute melakukannya di barat sana. Sungguh luar biasa. Kita tentu tahu, betapa barat mengalami Islam Phobia akut. Pernah di salah satu bandara di Amerika, seorang penumpang dicekal hanya karena memakai jaket bertuliskan kata-kata dengan huruf arab.


Aksi membela kaum muslim ini, bukan pertama kalinya dilakukan Kanoute. Sebelumya, sebagaimana juga pernah diberitakan Harian Republika, Kanoute pernah membeli tanah dan bangunan di Kota Sevilla senilai lebih kurang Rp. 7 Milyar dengan uang pribadinya. Tanah dan bangunan itu sebelumnya disewa oleh komunitas muslim di Kota Sevilla dan difungsikan sebagai Mesjid. Tapi kemudian pemiliknya tidak bersedia lagi memperpanjang sewa, yang antara lain karena keberatan bangunan miliknya itu digunakan sebagai Mesjid. Muslim Sevilla pun kehilangan Mesjid tempat beribadah dan menjalin ukhuwah. Untuk penggantinya, tentunya tidak mudah mendapatkan bangunan yang bisa disewa dan difungsikan sebagai Mesjid di Sevilla, sebagaimna juga di kota-kota lain di negara-negara barat sana. Kanoute akhirnya membeli tanah dan bangunan itu, kemudian mehibahkannya kepada komunitas Muslim Sevilla untuk kembali difungsikan sebagai Mesjid.

Demikianlah Freddy Kanoute.. Seorang Muallaf dermawan, pemberani, dan istiqomah.. Pejuang Islam sejati di zaman modern ini.. You're the real Muslim Bro...!!

Senin, 05 Januari 2009

BASKET HIDUP SAYA ... (2)

Kelas dua... Bagi yang baru saja naik ke kelas dua, tahun ajaran baru dimulai dengan membangun kesadaran baru dalam diri mereka masing-masing. Siswa yang naik kelas dan ditempatkan pada jurusan A1 (Fisika), bak menjadi warga sekolah dengan "kasta tertinggi". Mereka seolah berada pada menara gading kumpulan siswa-siswa paling cerdas. Mereka sekarang menikmati suatu kesadaran diri baru sebagai murid-murid potensial dari sisi akademis. Apalagi jika siswa jurusan fisika itu seorang cewek yang masuk kategori cantik... lengkap sudah hidup ini buat mereka. Puja-puji bertubi-tubi untuk mereka. Dari para guru, dari para senior, dan tentunya dari teman-teman seangkatan. Mereka juga dikagumi dan dijadikan role model oleh para junior/murid-murid baru. Dijamin, para "pungguk merindukan bulan" akan tiap malam memimpikan bisa dekat dengan mereka. Mereka adalah selebritis sekolah.

Siswa yang naik kelas dan ditempatkan dijurusan A2 (biologi), sebagiannya cukup berpuas diri karena masih berada pada "kasta" menengah. Sebagian ada yang tidak puas, karena merasa sebenarnya layak untuk ditempatkan di jurusan fisika. Tapi penempatan jurusan adalah perogratif guru, jadi mau tidak mau mereka harus menerima kondisi ini. Meskipun sudah jadi rahasia umum juga dikalangan siswa, bahwa untuk masuk ke jurusan tertentu itu sebenarnya bisa "diurus". Sekarang, mereka harus memiliki kesadaran baru sebagai warga sekolah dengan "kasta menengah".

Sedangkan saya dan kurang lebih 200-an siswa lainnya, manjadi warga sekolah dengan "kasta terendah" . Kami naik ke kelas 2 dan jadi penghuni jurusan A3 (sosial). Banyak diantara kami sebenarnya yang tidak bisa menerima kenyataan ini. Berada di jurusan sosial bagaikan aib bagi sebahagian kami dan keluarga masing-masing. Memang jurusan sosial identik dengan stigma negatif sebagai; jurusan pembuangan, jurusan tempat siswa-siswa berintelejensi rendah, jurusan tempat sisiwa-siswa "nakal'' dan bermasalah, jurusan yang tidak prospektif untuk jembatan menuju perguruan tinggi dengan jurusan-jurusan favorit, dan label-label negatif lainnya. Ketika masa sekolah dan kegiatan belajar mengajar dimulai, kami juga menyikapinya dengan beragam. Ada yang frustasi dengan nasib mereka di jurusan sosial sehingga kehilangan gairah dan ogah-ogahan bersekolah, ada yang cool-cool aja dan masa bodoh, ada yang serius menjalaninya karena merasa cocok dengan ilmu-ilmu sosial.

Sedangkan saya? Saya memang merasa lebih nyetel belajar ilmu-ilmu sosial. Tapi masa bodoh dengan semua itu. Bagi saya, yang terpenting tetap satu hal, BASKET!! Naik ke kelas dua bagi saya menjadi penting hanya karena mampu merubah status saya menjadi senior pada ekstrakurikuler bola basket. Selain itu, dengan telah naik ke kelas dua, saya makin berpeluang besar menjadi anggota tim basket SMA 3 Padang dan dilatih oleh sang guru olahraga yang memang pelatih basket jempolan itu. Ini menjadi istimewa bagi saya, karena selama kelas satu, kami hanya dilatih oleh para senior di ekskul saja. Sekarang, di kelas dua, saya akan berkesempatan digembleng oleh pelatih basket legendaris Sumatera Barat itu.


Beliau terkenal sebagai pelatih bertangan dingin yang mampu melahirkan banyak pemain basket bagus sekaligus memiliki mentalitas jempolan, baik sebagai atlet maupun sebagai manusia seutuhnya. Beliau tak hanya membentuk fisik kami sebagai atlet basket. Tidak hanya memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada kami mengenai taktik, strategi, dan organisasi permainan basket. Lebih penting dari itu, beliau secara mendalam mampu mengupas filosofi permainan basket dan menjadikannya sebagai menu untuk pembinaan mental kami. Beliau menempa kami menjadi manusia-manusia yang memiliki sikap mental positif melalui wejangan-wejangan yang tak henti-hentinya beliau berikan pada kami. Biasanya setiap menjelang kami menututup sesi latihan, kami lesehan santai di lapangan sambil mendengar beliau bertutur kepada kami tentang banyak hal. Dan, bak anak-anak mendengar dongeng pengantar tidur, kami selalu terpukau dengan kata-kata beliau yang mengalir tenang namun syarat makna. Beliau mengajarkan kami tentang sikap mental seorang atlet yang harus disiplin, bekerja keras, pantang menyerah, menghargai kawan maupun lawan, menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam tim, tidak egois, sportif dan lapang dada, dan banyak lagi. Tak lupa, beliau selalu mengaitkan semua filosofi itu dengan kehidupan keseharian kita, baik sebagai anak, sebagai teman, sebagai pelajar, dan sebagai apapun. Beliau juga banyak membuka cakrawala pikir kami mengenai visi ke depan. Bagaimana memandang dan mempersiapkan masa depan yang penuh tantangan tanpa perlu takut atau pesimis. Pokoknya, beliau yang terbaik dimata saya.". Seorang pendidik yang arif dan bijak, pelatih yang mumpuni, motivator ulung,.... segalanya. Tak heran, banyak jebolan tim basket SMU 3 Padang, yang nota bene hasil gemblengan beliau, menjadi orang-orang "hebat" dikemudian hari.

Kembali ke soal sekolah. Pendek kata, naik ke kelas dua, meski hanya berhak berada dijurusan sosial, benar-benar memberikan gairah baru bagi saya. Karena, dari sisi akademis, saya akan terbebas dari beberapa mata pelajaran eksak yang memang tidak pernah menarik buat saya. Dari sisi basketnya, saya akan makin fokus berusaha masuk tim basket SMA 3, yang otomatis nantinya akan berkesempatan mengikuti even-even basket antar SMA se Sumatera Barat. Dengan demikian, saya akan banyak kesempatan untuk bolos belajar secara legal dan sering jalan-jalan gratis jika tim basket sekolah kami diundang ikut even basket di luar kota. Ini excited sekali buat saya.


Proses metamorvosis kepribadian saya terus berlanjut karena basket. Basket mampu membuat saya lebih berani dalam hal-hal tertentu. Misalnya keberanian berbicara di depan orang banyak. Saya, dalam pergaulan sehari-hari saja terkesan pendiam dan sangat sulit untuk berkomunikasi, apalagi berkomunikasi didepan orang banyak. Lebih parah lagi jika berbicara dengan yang namanya cewek. Saya sama sekali tidak punya keberanian. Kalaupun sesekali terpaksa harus berbicara dengan cewek, dipastikan saya akan melakukannya dengan kikuk dan kesulitan dalam memilih dan memilah kata-kata. Nah, di ekskul basket semua itu perlahan terkikis. Sebagai salah seorang senior di ekskul basket, mau tidak mau saya harus sering tampil berbicara di depan para junior, dan sebahagian dari mereka cewek. Anehnya, saya merasa cukup mampu menjadi komunikator di depan mereka. Bahkan saya mampu berperan cukup baik sebagai pelatih para junior tersebut.

Inilah satu lagi kontribusi basket dalam membangun jiwa saya. Basket menempa saya menjadi seorang yang berani dan lebih percaya diri berbicara di depan audience. Kelak dikemudian hari, pengalaman selama berkiprah di ekskul basket ini, banyak saya petik manfaatnya. Setelah lulus kuliah, sebelum diterima sebagai PNS di Dephut, saya terbebas dari status sebagai pengangguran absolut, berkat kemampuan saya melatih basket. Saya bekerja melatih basket di beberapa sekolah di Kota Padang. Tentunya, lagi-lagi ini adalah "jasa" basket dalam hidup saya. Kesempatan jadi pelatih ini saya peroleh berkat bantuan seorang teman sesama eks anggota tim basket sekolah dulu. Sambari melatih, saya terus berusaha mencari pekerjaan yang lebih mapan. Penghasilan dari melatih basket, lumayan. Bisa memenuhi kebutuhan pribadi saya sehari-hari. Yang penting saya tidak menjadi beban tanggungan orang tua lagi.

Selain itu, keberanian saya berbicara didepan umum yang tertempa selama berkiprah di ekskul basket juga banyak saya rasakan manfaatnya. Antara lain saat harus presentasi tugas dan ujian skripsi semasa kuliah dulu, saat menghadapi wawancara tes pekerjaan. Dan yang paling penting adalah, saat saya telah bekerja di Departemen Kehutanan RI hingga saat ini, dimana saya tidak bisa mengelak untuk harus berbicara di depan umum. Seperti saat rapat, seminar, lokakarya, presentasi, dan bahkan mengajar di berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh kantor tempat saya bekerja. Saya telah membuktikan kebenaran kata-kata pelatih kami: "jika menjalaninya dengan sungguh-sungguh, kelak akan banyak manfaat yang bisa kalian petik dari mengikuti ekskul ini".

Demikianlah. Saya menjalani dua tahun masa SMA, kelas 2 dan kelas 3, itu dengan penuh semangat karena basket. Saya akhirnya berhasil jadi salah seorang pemain inti tim basket sekolah. Saya bergaul akrab dengan teman-teman sesama anggota tim. Latihan demi latihan, pertandingan demi pertandingan, kami lewati dengan segala suka dukanya. Lebih banyak suka, tentunya. Karena latihan basket sangat menyenangkan buat kami, dan dalam perjalanannya kami lebih banyak menang daripada kalah saat bertanding. Duka karena kalah bertandingpun biasanya tidak terlalu membuat kami down, karena selalu banyak pengalaman menarik yang kami alami pada tiap turnamen yang kami ikuti. Dan pengalaman terbaik, apalagi kalau bukan memperluas pergaulan kami. Kami berkenalan dengan banyak orang diberbagai kota dari berbagai kalangan di dunia basket Sumatera Barat, yang banyak kami rasakan manfaatnya dikemudian hari.

Satu bonus juga saya peroleh selama kelas 2 dan kelas 3, yaitu, prestasi akademis. Ini sulit dipercaya, bahkan oleh diri saya sendiri. Aneh rasanya, saya bisa selalu berada di lima besar peringkat akademis di kelas. Bahkan, saat kelas dua, pada semester satu, saya sempat juara 3. Tidak akan ada analisis yang bisa menjelaskan fenomena aneh ini. Saya bersekolah hanya untuk basket, saya banyak bolos karena basket, saya sama sekali tidak optimal belajar, tapi prestasi akademik saya tidak pernah mengecewakan. Aneh bukan? Namun saya tidak berbangga diri akan hal itu. Itu hanya nasib baik saja barangkali. Saya sama sekali bukan termasuk orang yang bisa dikategorikan pintar sehingga bisa berprestasi secara akademis disekolah walau tanpa belajar dengan tekun. Sama sekali tidak. Buktinya, untuk mata pelajaran matematika, satu-satunya pelajaran eksakta yang mau tidak mau masih dipelajari di jurusan sosial, nilai saya tetap jeblok.

Masa SMA saya berakhir dengan ending yang menyenangkan. Tahun 1994, Tiga bulan sebelum Ebtanas, seperti tahun-tahun sebelumnya, sekolah kami kembali menyelenggarakan Kejuaraan Bola Basket Antar SMA Se-Provinsi Sumatera Barat. Ajang itu benar-benar menjadi klimaks dari segala kerja keras kami. Even berlangsung dengan sukses. Dan semuanya menjadi terasa lebih indah dan sempurna karena kami keluar sebagai juara, baik putra maupun putri. Lebih hebat lagi, final putra berlangsung antara tim SMA 3 A melawan tim SMA 3 B. Kami benar-benar bersuka cita atas kesuksesan itu. Pelatih kami terharu dan senang tak terkira melihat hasil didikannya. Saya bangga, karena saya termasuk bagian penting dari semua kesuksesan itu. Ternyata saya bisa menjadi seseorang...

(bersambung)Rata Penuh

Rabu, 10 Desember 2008

Pengelolaan Hutan Rakyat (Belajar Dari Pengalaman Kabupaten Ciamis

Beberapa waktu yang lalu, Tim dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Agam Kuantan (BPDAS AK), melaksanakan kegiatan studi banding ke Provinsi Jawa Barat. Tim beranggotakan 6 (enam) orang, terdiri atas 5 (lima) orang staff BPDAS Agam Kuantan dan 1 (satu) orang anggota LSM dari Kabupaten Pasaman Barat. Tujuan studi banding ini adalah untuk menggali informasi dan mempelajari pengalaman penerapan pola kemitraan antara kelompok tani hutan rakyat dengan mitra usaha di Provinsi Jawa Barat. Hasil studi banding tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan untuk melahirkan suatu model pola kemitraan yang implementatif dan responsif dengan kondisi di Sumatera Barat.

Selama pelaksanaan studi banding, tim BPDAS Agam Kuantan melaksanakan berbagai aktivitas di wilayah Kabupaten Ciamis dan sekitarnya, antara lain:

  • Kunjungan ke Desa Sidamulih Kecamatan Pamarican. Desa ini merupakan desa mandiri bidang kehutanan dan merupakan salah satu desa model pemberdayaan masyarakat bidang hutan rakyat di Kabupaten ciamis. Di desa ini benar-benar terlihat kondisi masyarakat yang perekonomiannya berbasis pada hutan rakyat. Tak terlihat ada lahan terlantar, semua ditanami masyarakat dengan konsep agroforestry.

Di sisi kelembagaan, masyarakat desa ini juga telah memiliki sistem pranata yang mapan dalam mengelola kekayaan hutan rakyat mereka, sehingga keberadaannya bisa berkesinambungan, yang dengan demikian tentunya akan berdampak positif secara ekologis dan mampu meningkatkan taraf hidup sosial-ekonomi masyarakat. Banyak Peraturan Desa telah dilahirkan yang bertujuan untuk melindungi, mengatur, sekaligus menjaga manfaat ekonomi hutan rakyat. Peraturan-peraturan desa tersebut berjalan efektif dan ditaati oleh masyarakat, walaupun sanksi-sanksi terhadap pelanggaran peraturan-peraturan tersebut hanya bersifat moral saja. Salah satu contoh. Ada peraturan yang mewajibkan masyarakat menanam 10 (sepuluh) batang pohon sebagai pengganti setiap 1 (satu) batang pohon yang ditebang. Ini sangat ditaati masyarakat, karena jika melanggar, si pelanggar akan meperoleh sangsi moral berupa pengucilan, setidaknya oleh sesama anggota kelompok tani mereka.

  • Kunjungan ke Balai Penelitian kehutanan Ciamis. Disini rombongan BPDAS Agam Kuantan disambut dalam sebuah acara diskusi dengan segenab stakeholder kehutanan di Kabupaten Ciamis. Acara ini dihadiri oleh unsur pemerintah pusat dan daerah, kelompok masyarakat, dan dunia usaha bidang kehutanan.

Dari hasil diskusi terungkap, bahwa keberhasilan pembangunan kehutanan di Ciamis bukanlah hasil kerja ”semalam”. Keberhasilan tersebut di rintis dari titik nol. Sebab, pada awalnya kondisi masyarakat Ciamis juga tak jauh beda dengan kondisi masyarakat diberbagai daerah lain, yaitu tidak memiliki kesadaran untuk menanam dan merehabilitasi hutan dan lahan. Masyarakat tahunya hanya menebang/mengeksploitasi hutan. Menyadari kondisi itu, kemudian semua pihak benar-benar berkomitmen untuk merubah keadaan. Sektor kehutanan harus dikelola dengan bijak, sebab hanya tersisa 14% saja hutan alam di daerah tersebut. Untuk itu, konsep hutan rakyat harus dikembangkan secara optimal, agar tekanan terhadap hutan alam bisa diminimalisir.

Bentuk komitmen tersebut antara lain ditunjukkan oleh Dinas Kehutanan dan mitra kerjanya di DPRD. Pemerintah daerah dengan dukungan dari DPRD terus menerus memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan hutan rakyat. Birokrasi dan segala macam bentuk perijinan terhadap seluruh proses tata niaga hasil hutan yang berasal dari lahan masyarakat, terutama untuk hasil hutan kayu, dipermudah dan disederhanakan. Yang lebih hebat lagi, segala macam bentuk pungutan dan retribusi terhadap tata niaga kayu rakyat ini juga ditiadakan.

Alhasil, saat ini masyarakat ciamis telah menanam secara swadaya tak kurang dari 7 juta pohon /tahun di kebun-kebun mereka. Dari hutan rakyat ini, Ciamis bisa memproduksi 0.5 juta kubik kayu/tahun dengan jumlah perputaran uang mencapai 357 milyar Rupiah. Angka ini tentunya menjadi salah satu sektor yang memberi pengaruh terbesar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Meskipun tidak secara langsung menyumbang untuk PAD, namun memberi multiplyer effect dalam menggerakkan perekonomian kabupaten Ciamis secara keseluruhan. Sebab, petani hutan rakyat yang makmur, dengan pendapatan memadai, tentu akan memiliki kemampuan konsumsi barang dan jasa yang memadai pula. Para petani banyak yang mampu beli kendaraan, perabotan rumah tangga, menyekolahkan anak-anak mereka, mengakses jasa pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Kondisi ini tentunya mampu menggerakkan sektor riil secara signifikan.

Pada awalnya, kebijakan Dinas Kehutanan yang tidak memungut retribusi apa-apa dari sektor kehutanan tersebut, sempat dipertanyakan oleh DPRD. DPRD menilai sektor kehutanan tidak menyumbang hasil langsung terhadap Pendapatan Asli Daerah seperti dinas-dinas yang lain. Namun Dinas kehutanan mampu meyakinkan, bahwa efek berganda dari kebijakan tersebut justru jauh lebih bermanfaat bagi perekonomian Ciamis. Kepala Dinas Kehutanan memberi contoh, dengan memunguti para pedagang di pasar, Dinas Pasar hanya menghasilkan Rp 5 Milyar pertahun. Sementara, Dinas Kehutanan, dengan kebijakan-kebijakan yang meringankan beban para petani hutan rakyat dari segala macam pungutan, mampu menghasilkan perputaran uang sebesar Rp. 357 Milyar pertahun. Disamping itu, kondisi hutan dan lahan terpulihkan dan semakin berkualitas, sehingga memberi efek positif bagi lingkungan hidup di Kabupaten Ciamis secara keseluruhan. Potensi kerugian ekonomi karena bencana lingkunganpun dapat dihindari (loss avoided). ”Silahkan dibandingkan, mana yang lebih baik bagi rakyat”, demikian Kepala Dinas. Karena dianggap baik, kebijakan seperti ini akhirnya justru dirujuk dan ditiru oleh beberapa kabupaten tetangga.

Seiring dengan itu, sektor hilir, yaitu industri kayu, terus dibina. Sehingga tercipta pasar kayu yang bagus yang menjadi jaminan bagi pemasaran kayu rakyat. Atau secara singkat dapat dikatakan, bahwa di kabupaten Ciamis menanam kayu pasti laku dan menguntungkan.

Tak heran kalau saat ini kegiatan menanam pohon (kayu) sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat Ciamis. Sebahagian masyarakat malah merasa tidak perlu lagi fasilitasi dari pemerintah atau pihak-pihak lain. Juga ada masyarakat yang sudah tidak mau lagi bermitra dengan pengusaha dalam kegiatan tanam menanam pohon. Hitung-hitungan mereka sederhana, jika bermitra, mereka harus bagi hasil. Jadi lebih baik menanam sendiri secara swadaya dan hasilnya bisa 100% mereka nikmati sendiri.

Diakui Kepala Dinas Kehutanan, bahwa masyarakat Ciamis memang sudah sangat sadar dan aktif untuk menanam. Sehingga saat ini hampir tidak ditemukan lagi lahan terlantar. Semua lahan sudah ditanami masyarakat, sehingga sangat sulit untuk mencari lahan untuk lokasi kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan maupun kegiatan yang bersuber dari Dana Alokasi Khusus. Saat ini Dinas Kehutanan tidak lagi memperoleh dana alokasi khusus dari APBD. ”Andai Dinas Kehutanan dibubarkanpun, masyarakat akan tetap menanam pohon”. Demikian pernyataan Kepala Dinas Kehutanan kabupaten Ciamis optimis.

  • Mengunjungi pabrik pengolahan kayu PT. Bina Kayu Lestari di Tasik Malaya. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan pengolahan kayu terbesar di Jawa Barat. Sumber bahan baku kayu perusahaan ini semuanya berasal dari hutan rakyat di wilayah Kabupaten Ciamis dan sekitarnya. Perusahaan ini memiliki anak perusahaan yang khusus menangani kemitraan dengan masyarakat, baik untuk kegiatan penanaman kayu untuk menjamin ketersediaan bahan baku kayu, kegiatan penggergajian, sampai pada kegiatan ekspor. Semua itu dibungkus dengan suatu aturan main kemitraan yang berkeadilan. Ketentuan bagi hasil dengan komposisi masyarakat 80% dan perusahaan 20% dirasa cukup menguntungkan bagi masyarakat. Selain itu, masyarakat juga berkesempatan menjadi pemilik saham perusahaan. Perusahaan juga secara konsisten melaksanakan konsep Corporate social responsibility. Sehingga keberadaan perusahaan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari pelaksanaan studi banding ini adalah, bahwa keberhasilan pembangunan kehutanan di Kabupaten Ciamis, khususnya hutan rakyat, adalah karena beberapa faktor:

  • Adanya peran serta semua pihak secara terus menerus untuk membangun sektor kehutanan. Adanya kesadaran dan kemauan dari masyarakat, fasilitasi dan regulasi yang tepat oleh pemerintah, dan kesediaan sektor swasta menanamkan modalnya untuk mengembangkan industri berbasis kehutanan.
  • Pembangunan kehutanan dilaksanakan dengan mengutamakan pendekatan ekonomi. Masyarakat terus menerus dimotivasi bahwa kegiatan menanam pohon akan menguntungkan secara ekonomi. Pendekatan ekologi akan otomatis mengikuti kemudian.
  • Sektor hulu dan hilir dibina sejalan. Dengan demikian ketika tanaman hutan rakyat menghasilkan, pasarnya berupa industri kayu telah tersedia dan mampu menampung berapapun kapasitas produksi kayu rakyat.
  • Adanya konsep kemitraan yang berkeadilan antara masyarakat dan pihak swasta, sehingga masyarakat tersejahterakan. Kondisi ini mendorong masyarakat menjadikan kegiatan penanaman pohon sebagai pilar ketahanan ekonomi mereka.

Pertanyaan kita selanjutnya, kapan kondisi seperti di Ciamis bisa terjadi di Sumatera Barat? Kayu semakin langka, sedangkan kebutuhan terus meningkat. Di sisi lain, hutan alam Sumatera Barat mayoritas berfungsi lindung dan tidak mungkin dieksploitasi untuk meningkatkan kapasitas produksi kayu. Saatnya kita kembangkan hutan rakyat kemitraan di Sumatera Barat. Tak ada salahnya kita belajar dari pengalaman Ciamis. Caliak contoh ka nan sudah, ambiak tuah ka nan manang.

Sabtu, 29 November 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional, Indonesia Tanam 100 Juta Pohon


Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi meresmikan kegiatan Aksi Penanaman Serentak 100 Juta Pohon di Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Barat Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut di Teluk Bayur Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Jumat 28 November 2008. Kegiatan ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan HARI MENANAM POHON INDONESIA DAN BULAN MENANAM NASIONAL. Tema yang diangkat tahun ini adalah: “Penanaman Serentak 100 Juta Pohon dalam Rangka Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional”, dan Sub Tema “Wujudkan Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera, Indonesia Bisa”.

Kegiatan ini merupakan aksi nyata sebagai tindak lanjut atas telah diterbitkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Penetapan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia dan bulan Desember sebagai Bulan Menanam Nasional. Dengan terbitnya Keppres ini, diharapkan kegiatan menanam bisa menjadi kegiatan yang berkesinambungan di seluruh Indonesia.

Acara pencanangan untuk tingkat Provinsi Sumatera Barat ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, baik unsur Muspida, DPRD, swasta, pelajar, LSM, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Pada acara tersebut, Gamawan Fauzi membacakan sambutan Menteri Kehutanan RI. Dalam sambutannya Menteri Kehutanan antara lain menyampaikan:

Bahwa makna yang terkandung dalam terbitnya Keppres Nomor 24 Tahun 2008 adalah, untuk pertama kali kita memiliki hari/waktu dimana seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada menanam pohon secara serentak. Terbitnya Keppres tersebut juga merupakan suatu momentum dimana Pimpinan Nasional mengajak seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada untuk secara sadar mau melaksanakan kegiatan menanam dan memelihara pohon, yang diharapkan dengan kegiatan tersebut memberi sumbangan terhadap pemulihan kerusakan sumberdaya hutan, sekaligus juga membangun budaya sadar menanam sebagai sikap hidup Bangsa Indonesia.

Hal ini menjadi sangat penting mengingat kondisi hutan dan lahan kita saat ini. Disekitar tempat kita berada masih banyak hutan yang kritis, bukit-bukit yang gundul, lahan kosong yang tidak terurus dan tidak jelas pemiliknya, lahan tegal dan pekarangan terbuka, jalan yang gersang, perkantoran, tempat publik dan tempat ibadah yang belum memiliki ruang hijau yang memadai. Dengan didorong semangat Kebangkitan Nasional Menhut mengajak kita semua segera memperbaiki keadaan tersebut dengan sungguh-sungguh. Apabila upaya rehabilitasi terhadap lokasi-lokasi tersebut tidak segera dilakukan, maka yang terjadi kita akan menuai bencana dikemudian hari. Berbagai bencana karena kerusakan hutan dan lahan sebenarnya telah kita rasakan dibeberapa wilayah Indonesia, seperti terjadinya banjir dan tanah longsor dibeberapa daerah yang menyebabkan kerugian harta benda dan bahkan korban jiwa. Selain itu kita juga menghadapi ancaman bencana kekeringan di musim kemarau.

Tidak ada cara lain untuk mencegah bencana alam tersebut, kecuali dengan sungguh-sungguh kita melaksanakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan pada lahan kritis secara berkesinambungan, baik melalui proyek pemerintah maupun oleh partisipasi seluruh masyarakat. Apabila kita tidak melaksanakan rehabilitasi hutan dan lahan dengan berhasil, maka kita akan dituding sebagai perusak sumber daya alam hutan oleh generasi berikutnya. Demikian Menhut.

Menhut juga mengingatkan kembali beberapa hal yang perlu dilakukan oleh semua pihak dalam pelaksanaan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional, sebagai berikut:

Pertama: Kepada para pemimpin daerah mulai dari Lurah, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur beserta jajarannya diminta agar kegiatan menanam pohon benar-benar dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan terus dimonitor keberhasilannya dan melaporkan kepada Departemen Kehutanan.

Kedua: Kepada seluruh BUMN/BUMS untuk berpartisipasi dalam kegiatan menanam pohon baik di lingkungan masing-masing dan dapat memfasilitasi masyarakat untuk menanam pohon.

Ketiga: Kepada seluruh pihak yang telah melaksanakan penanaman di seluruh tanah air, diminta untuk dipelihara, dijaga, dan dipantau dari gangguan, baik hama tanaman, ternak, kebakaran, dan lain sebagainya, agar usaha kita dalam memulihkan kerusakan lingkungan dapat berhasil.

Keempat: Kegiatan menanam pohon tidak berhenti hanya pada acara tanggal 28 November, namun dilanjutkan pada bulan berikutnya, terutama bulan Desember sebagai Bulan Menanam Nasional, serta bulan-bulan berikutnya sesuai dengan kesesuaian musim hujan.

Diakhir acara, Gubernur dan Istri melakukan penanaman pohon secara simbolis, diikuti oleh pimpinan berbagai lembaga pemerintah maupun non pemerintah yang ada di Kota Padang, antara lain Ketua DPRD Sumbar, Wali Kota Padang, Komandan Lantamal, kemudian dilanjutkan oleh massa peserta upacara lainnya menanam berbagai jenis pohon.

Pada hari yang sama, kegiatan pencanangan juga berlangsung di seluruh Indonesia. Di Sumatera Barat, sebanyak 15 Kabupaten/Kota melaksanakan pencanangan pada hari yang sama dipimpin oleh Bupati/Walikota atau unsur pimpinan daerah masing-masing. Sedangkan tiga daerah, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman Barat, dan Kota Payakumbuh direncanakan melaksanakan pencanangan pada hari Senin 1 Desember 2008. Tentunya kegiatan menanam ini bukan hanya kegiatan pencanangan dan seremonial belaka. Pada hari-hari berikutnya, terutama pada Bulan Desember yang merupakan Bulan Menanam Nasional, berbagai elemen masyarakat secara swadaya akan melaksanakan penanaman masal dilokasi-lokasi yang telah ditetapkan sendiri oleh masyarakat secara partisipatif.

Kegiatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional wilayah Sumatera Barat, untuk tahun 2008 ini, ditandai dengan antusiasme yang tinggi dari berbagai elemen masyarakat. Konsep penanaman secara swadaya yang dicanangkan pemerintah mendapat respon yang besar dari masyarakat Sumatera Barat. Ini terbukti dari permintaan bibit tanaman dari berbagai elemen masyarakat di kabupaten/kota se Sumatera Barat ke Departemen Kehutanan yang mencapai jumlah 4 Juta batang bibit. Padahal kemampuan Departemen Kehutanan untuk memenuhi kebutuhan bibit untuk Sumatera Barat pada kegiatan tahun 2008 ini hanya sejumlah kurang lebih 1,8 juta batang bibit.

“Ini suatu gejala yang menggembirakan”, ujar Ir. Djonli, MF, Kepala Balai Pengeloaan Daerah Aliran Sungai Agam Kuantan (BPDAS AK). BPDAS AK adalah Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan yang bertanggung jawab dalam penyediaan bibit tanaman untuk kegiatan penanaman serentak ini. Lebih lanjut menurut Djonli, “jumlah pemintaan bibit dari masyarakat yang jauh melebihi kemampuan Dephut menyediakan bibit ini, menunjukkan bahwa masyarakat Sumatera Barat telah sadar dan mau menanam”. “Mudah-mudahan kesadaran menanam ini terus berlanjut, dan tentunya kita berharap agar kesadaran menanam tersebut juga diikuti dengan kesadaran untuk memelihara tanaman yang telah ditanam”.

Masih menurut Djonli, “Kunci keberhasilan kegiatan penghijauan lingkungan maupun kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan lainnya, sehingga berimplikasi positif pada upaya perbaikan lingkungan, memang terletak pada kesadaran masayarakat”. Sebab kegiatan tersebut memang seharusnya menjadi tanggungjawab bersama seluruh unsur masyarakat”. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh semua pihak. “Peran pemerintah harusnya hanya sebagai fasilitator dan regulator saja”, ujarnya. “Mudah-mudahan untuk tahun-tahun berikutnya, selain sadar untuk melakukan kegiatan penanaman swadaya, diharapkan masyarakat juga mau berswadaya dalam penyediaan bibit tanamann yang akan ditanam”. “ Dengan demikian jumlah bibit yang akan ditanam jumlahnya bisa jauh lebih besar ketimbang hanya mengharapkan bibit yang disediakan Departemen Kehutanan”, demikian pungkas Djonli.

Selasa, 18 November 2008

BASKET HIDUP SAYA ... (1)

BASKET HIDUP SAYA!! Kalimat ini adalah jargon yang diusung sebuah produk rokok saat gencar-gencarnya mensponsori Kompetisi Bola Basket Utama (Kobatama) di era pertengahan hingga akhir 90-an. Namun, buat saya, kalimat "Basket Hidup Saya" juga mewakili apa yang saya alami di sepenggalan hidup saya semenjak menginjak remaja hingga saat ini. Saya menemukan jati diri ditengah galaunya pancaroba masa remaja melalui basket, menjadi pribadi yang lebih percaya diri karena basket, menemukan teman-teman terbaik di lingkungan basket, melalui vase-vase kehidupan yang penuh warna dan dinamika di dunia basket. Bahkan, saya bisa mencapai tahapan kehidupan seperti sekarang ini juga karena basket. Ya, BASKET HIDUP SAYA!!

Sebenarnya, semasa kecil, saya bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Alam pikiran masa kecil saya saat itu begitu terinspirasi oleh kiprah tim nasional sepakbola Indonesia pada Pra Piala Dunia tahun 1986. Para punggawa timnas saat itu begitu ngetop. Sebut saja nama, Bambang Nurdiansyah, Dede Sulaiman, Marzuki Nyakmad, Heri Kiswanto, Eli Idris, Rully Nere, Zulkarnain Lubis, Penjaga Gawang Hermansyah, dan lain-lain. Kebanyakan orang Indonesia pasti familiar dengan nama mereka. Sebab setiap laga timnas selalu disiarkan secara langsung oleh TVRI, satu-satunya stasiun televisi saat itu. Dengan demikian, otomatis setiap laga timnas itu disaksikan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, termasuk saya. Rugi sekali rasanya kalau tidak ikut menonton laga timnas lewat televisi. Penampilan mereka di lapangan hijau itu dimata saya terlihat begitu heroik.

Sejak itulah, saya bercita-cita jadi pemain sepakbola nasional. Sejak saat itu pulalah saya semakin getol bermain sepakbola. Hampir semua waktu luang, saya habiskan untuk bermain bola, tidak peduli pagi, siang, sore, atau bahkan malam sekalipun. Ketika itu, bermain sepakbola seolah segala-galanya dalam hidup saya. Lebih penting dan lebih nikmat daripada hal apapun di dunia ini. Gara-gara keranjingan bermain sepakbola, suatu waktu, saya mengalami kecelakaan lalu lintas. Tertabrak motor ketika mengejar bola yang meluncur ke jalan raya saat saya dan teman-teman bermain bola di halaman sebuah kantor instansi pemerintah.

Namun, selain sangat kecanduan bermain sepakbola, saya juga tertarik dengan permainan bola basket. Rumah keluarga saya dekat dengan komplek sebuah SMA yang ada lapangan basketnya. Saya mulai mengenal basket di sana. Selain itu, di kota masa kecil saya itu, juga rutin digelar pertandingan basket antar klub amatir. Hampir tiap 2 bulan ada turnamen, yang biasanya digelar di lapangan basket yang ada di semacam alun-alun kota. Pertandingan-pertandingan basket amatir itu juga amat menarik perhatian saya saat itu. Jika sedang digelar suatu turnamen, tiap sore saya akan berusaha untuk tidak absen menontonnya. Sayapun mulai jadi basket mania. Meski demikian, minat saya tetap lebih besar pada sepakbola.

Menginjak kelas 3 SMP, saya harus ikut orang tua pindah ke kota Padang. Di Padang, main sepakbola tetap menjadi bagian keseharian saya. Sedangkan akses saya ke dunia basket terputus. Karena rumah kami relatif jauh ke sarana lapangan basket. Juga tidak ada komunitas basket disekitar saya, baik dirumah maupun disekolah. Singkatnya, geliat dunia basket di Ibu Kota Sumatera Barat ini sama sekali jauh dari jangkauan saya saat itu.

Lulus SMP, semua berubah. Berawal dari pilihan sekolah selepas SMP. Masa itu, dilingkungan bermain saya, ada semacam stigma, bukan cowok tulen namanya kalau selepas SMP memilih melanjutkan ke SMA. Pilihan ideal kami adalah: melanjutkan ke STM!! Kesannya jantan sekali kalau sekolah di STM. Setidaknya demikian dalam alam pikiran kami. Sayapun mendaftar ke STM. Tetapi, sebagai back-up saya juga mendaftar ke SMA. Malang, ternyata saya tidak diterima di STM. Karena nilai saya tidak mencukupi untuk diterima di jurusan elektro di STM. Di SMA, saya diterima. Akhirnya dengan setengah hati saya bersekolah di SMA. SMA 3 Padang. Ternyata pilihan setengah hati ini justru menjadi titik awal dari berbagai pencapaian dalam kehidupan saya.

SMA 3 Padang adalah SMA basket. Tim Basketnya sangat disegani di Kota Padang. Salah seorang guru olah raga di sekolah ini adalah pelatih basket senior yang sering dipercaya menjadi pelatih basket Tim Kota Padang maupun Tim Provinsi Sumbar ke berbagai even basket, mulai dari yang berskala daerah sampai nasional. Beliau inilah yang membina ekstrakurikuler bola basket di SMA 3 Padang. Ketika itu, sekolah ini juga rutin menggelar turnamen basket antar SMA se Provinsi Sumatera Barat. Nah, kondisi ini menyebabkan perhatian saya kembali terarah pada basket. Kalau pada awalnya saya setengah hati bersekolah di SMA, sekarang tiba-tiba gairah saya berkobar untuk bersekolah di SMA 3 ini. Alasannya bukan apa-apa, hanya karena di sekolah ini ekskul basketnya bagus, dan saya sangat antusias ingin ikut dalam ekskul itu. Target saya jelas, saya ingin menjadi salah seorang anggota Tim Basket SMA 3 yang sudah sangat dikenal dan disegani itu, setidaknya dilingkup Kota Padang. Seiring dengan itu, entah kenapa, sepakbola mulai terlupakan.

Hari-hari berikutnya, saya jadi bersemangat berangkat sekolah. Bukan karena guru-guru di sekolah yang simpatik, bukan karena mata pelajaran – mata pelajaran yang menarik, bukan pula karena suasana sekolah yang asik, juga bukan karena banyak siswi cantik dan nyentrik. Bukan, sama sekali bukan. Saya bersemangat berangkat sekolah hanya supaya bisa bermain basket. Saat jam istirahat yang cuma setengah jam, saya selalu sempatkan main ke aula sekolah – yang juga sekaligus berfungsi sebagai lapangan basket – sekedar untuk bisa mendribling dan shooting bola basket. Sepulang sekolah, saya kembali bermain basket sepuasnya, terkadang sampai lewat magrib. Kecanduan saya bermain sepakbola benar-benar sudah tergantikan oleh kecanduan bermain basket.

Sebenarnya alasan saya begitu serius mengasyikkan diri dengan basket tidak semata karena saya memang tergila-gila sama basket. Alasan lainnya adalah karena saya memang tidak punya modal lain untuk bergaul. Sebagai anak yang berasal dari keluarga yang sangat sederhana, saya tumbuh menjadi remaja yang introvert, cenderung tertutup dan pendiam, bahkan boleh dibilang kurang percaya diri. Tanpa modal apa-apa, sulit rasanya bisa dihargai dan berbaur dengan anak-anak gaul di SMA masa itu. Jika kita bukan anak orang kaya, jika kita tidak punya tampang di atas rata-rata, jika kita tidak berotak encer, atau jika kita tidak memiliki keunikan tertentu, maka tersisihlah kita dari pergaulan. Nah, kebetulan saya memang merasa tidak punya semua itu. Sehingga, saat itu rasanya saya sangat sulit untuk bergaul. Namun, di lapangan basket saya merasa tidak memerlukan semua itu. Yang saya perlukan hanyalah kemampuan bermain basket untuk bisa dianggap dan dihargai, setidaknya dilingkungan teman-teman sesama penggemar basket. Karena memang hanya kemampuan bermain basketlah yang dianggap paling berharga untuk dinilai di lapangan basket. Orang akan sangat respek pada anda jika permainan basket anda bagus, tidak peduli bagaimanapun kondisi dan latar belakang anda. Inilah alasan lain saya begitu total dengan basket. Saya butuh media eksistensi diri. Saya butuh tempat bersosialisasi dimana saya bisa dianggap dan dihargai. Basketlah tempatnya. Inilah peran pertama basket dalam membangun kepribadian saya. Yaitu memenuhi kebutuhan akan eksistensi diri dalam menjalani masa remaja. Secara perlahan sayapun mulai menemukan kepercayaan diri dalam menjalani takdir hidup saya yang dimasa remaja itu merasa tidak punya kelebihan apa-apa.

Berikutnya, hari-hari masa SMA saya jalani dengan segala dinamikanya. Kegiatan bersekolah biasa-biasa saja. Secara akademis tidak ada prestasi istimewa yang saya capai. Bahkan saya cenderung lemah dibeberapa mata pelajaran eksakta. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena pelajaran-pelajaran eksakta itu terasa sangat tidak menarik buat saya (barangkali karena keterbatasan tingkat intelejensi saya juga), sehingga seringkali jadwal mata pelajaran eksakta jadi sasaran saya untuk membolos . Ini tidak pernah diketahui keluarga. Untuk ini, saya minta maaf pada semua keluarga yang dari dulu selalu yakin dan menganggap saya “anak baik-baik”.

Terlepas dari itu, saya mulai enjoy disekolah, karena telah memiliki peergroup sendiri, yaitu anggota ekskul basket SMA 3 Padang, yang mana saya nyaman berada di tengahnya. Saya mulai cukup dikenal karena termasuk anggota ekskul yang lumayan terampil bermain basket. Dengan berjalannya waktu, ikatan pergaulan kami sebagai komunitas anggota ekskul basket juga makin akrab dan mengerucut. Beberapa diantara kami mulai terlihat berpotensi akan menjadi calon anggota Tim Basket SMA 3 Padang, penerus tradisi kejayaan Tim Basket sekolah yang disegani. Basket menyebabkan kami memiliki ikatan yang kuat. Berbagai kegiatan diluar basketpun kami lakukan bersama-sama. Basket akhirnya hanya jadi sekedar alat yang mempertemukan dan mempersatukan kami. Inilah peran kedua basket dalam hidup saya, yaitu mempertemukan saya dengan teman-teman terbaik. Mereka inilah yang kemudian menjadi orang-orang yang berperan besar dalam hidup saya. Beberapa kejadian penting dalam hidup saya ke depan tak terlepas dari peran dan keterlibatan mereka.

Setahun berlalu. Saya naik kelas 2 dengan predikat biasa-biasa saja. Hasil psycho-test dan kondisi perolehan nilai-nilai saya selama kelas 1 mengharuskan saya ditempatkan di jurusan sosial. Bagi saya itu sama sekali tidak menjadi masalah. Selain karena ilmu sosial justru lebih menarik bagi saya, sedari awal saya memang menganggap sekolah hanya sebagai sarana supaya saya bisa bermain basket. Tak pernah ada upaya optimal saya lakukan untuk menggapai target akademis. Di saat banyak teman les Fisika, Matematika, Bahasa Inggris, saya hanya sibuk dengan basket dan basket. Selain memang karena terlalu asik dengan basket, les juga sesuatu yang mustahil bagi saya. Karena harus bayar, tentunya. Saya tidak ingin menambah beban pengeluaran orang tua. Jadi apa yang saya capai secara akademis ini memang sudah seharusnya begitu. Bukankah output tergantung apa inputnya dan bagaimana proses yang dilaluinya?

(Bersambung)

Kamis, 06 November 2008

MERITOKRATIK (Fareed Zakaria, Barrack Obama, Lewis Hamilton)

Obama menang. Anak Menteng itu menjadi presiden Amerika Serikat yang ke 44. Banyak yang ingin berkomentar soal kemenangan yang sebenarnya sudah dapat diperkirakan sebelumnya itu. Seluruh dunia merasa Obama menang untuk mereka. Dia seolah baru saja terpilih jadi Presiden Dunia.

Tapi saya tidak akan berkomentar berkaitan langsung soal kemenangan Obama sebagai presiden itu. Saya tertarik membahasnya dalam konteks sebagaimana yang ditulis oleh Ahmad Syafi’i Ma’arif (mantan ketua umum PP Muhammadiah – red) dalam kolom resonansi di Harian Republika beberapa hari lalu. Dalam tulisan itu dia membahas mengenai Fareed Zakaria. Seorang kolumnis pada surat kabar berpengaruh di Amerika, NEWSWEEK. Fareed Zakaria adalah seorang keturunan muslim yang berasal dari Haeder Abad India. Sekarang dia menjadi seorang penulis yang amat disegani dunia karena ketajaman pemikiran dan analisa-analisanya mengenai berbagai persoalan dunia. Berbagai artikel dan buku-bukunya sangat diperhitungkan, dirujuk, dan mendunia.

Dunia tidak lagi melihat siapa dia, apa latarbelakang etnisnya, apa agamanya, dan tetek bengek primordial lainnya. Dunia tidak peduli itu. Dunia hanya melihat bagaimana kualitas dirinya, apa pencapaian-pencapaian yang telah diraihnya, karya-karyanya dan prestasi-prestasi lainnya. Berkaitan dengan itu, Ma’arif melihat hal yang sama pada Obama. Dunia tidak melihat Obama sebagai seorang keturunan Afro-Amerika, dunia tidak peduli dia pernah menjalani 4 tahun masa kecilnya di sebuah negara miskin di Asia Tenggara. Dunia hanya melihat kualitas dirinya. Dunia terpukau dengan kharismanya saat berorasi. Pemikiran-pemikirannya soal perubahan menyihir dunia untuk bersimpati padanya.

Menurut Ma’arif, hal tersebut karena tatanan peradaban dunia memang telah benar-benar MERITOKRATIK. Dalam tatanan meritokratik seseorang dihargai hanya karena kualitas pribadinya, tidak peduli apa latar belakang etnis, ras, agama, bahkan budayanya. Saya setuju dengan kesimpulan ini. Saya juga punya contoh yang relevan. Lewis Hamilton. Hamilton adalah seorang warga negara Inggris kulit hitam keturunan Granada. Kalau Obama menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika, Hamilton juga orang kulit hitam pertama yang menjuarai balapan mobil paling bergengsi di dunia, F1 (FORMULA ONE). Dalam seri balapan tahun 2008, Hamilton yang masih 23 tahun, dan baru menjalani musim keduanya di F1, menjadi kampiun ditengah persaingan ketat pembalap-pembalap kulit putih yang jauh lebih berpengalaman dan diunggulkan. Saat mulai berkiprah, Hamilton juga masih dipandang sebelah mata oleh pelaku dan penggemar F1. Juga tak jarang ada komentar-komentar bernada rasial dialamatkan kepadanya. Namun, Hamilton mampu membungkam dunia dengan prestasinya. Sekarang duniapun sangat menghargainya. Contoh lain adalah; Tiger Woods. Begitulah tatanan dunia yang MERITOKRATIK.

Senin, 03 November 2008

RIMBAWAN

HAI PERWIRA RIMBA RAYA
MARI KITA BERNYANYI
MEMUJI HUTAN RIMBA DENGAN LAGU YANG GEMBIRA
DAN NYANYIAN YANG MURNI

MESKI SEPI HIDUP KITA
JAUH DI TENGAH RIMBA
TAPI KITA GEMBIRA SEBABNYA KITA BEKERJA
UNTUK NUSA DAN BANGSA

RIMBA RAYA RIMBA RAYA
INDAH PERMAI DAN MULIA
MAHA TAMAN TEMPAT KITA BEKERJA

RIMBA RAYA MAHA INDAH
CANTIK MOLEK PERKASA
MENGHIBUR HATI SUSAH
MENYOKONG NUSA DAN BANGSA
RIMBA RAYA MULIA

DI SITULAH KITA KERJA
DISINAR MATAHARI
GUNUNG LEMBAH BERDURI
HARUSLAH KITA ARUNGI
DENGAN HATI YANG MURNI

RIMBA RAYA RIMBA RAYA
INDAH PERMAI DAN MULIA
MAHA TAMAN TEMPAT KITA BEKERJA