Senin, 23 Februari 2009

Revitalisasi Fungsi Petugas Lapangan Gerhan (PLG) Provinsi Sumatera Barat

Semenjak Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/Gerhan) dicanangkan tahun 2003 lalu, disadari bahwa salah satu persoalan krusial yang perlu diperhatikan adalah persoalan kelembagaan. Terutama kelembagaan masyarakat (kelompok tani) sebagai ujung tombak pelaksana kegiatan di lapangan. Pemerintah sangat paham, bahwa tanpa adanya kelembagaan masyarakat yang kuat dan memiliki pranata yang kondusif dalam mendukung semangat rehabilitasi hutan dan lahan, maka tujuan dari kegiatan Gerhan ini akan sulit terwujud. Oleh karena itu, sejak awal, kegiatan pembinaan dan penguatan kelembagaan kelompok tani tidak terlepas dari mata rantai kegiatan Gerhan secara keseluruhan.

Berbagai kegiatan dengan tujuan penguatan kelembagaan kelompok tani selalu memperoleh porsi perhatian pada tiap tahun anggaran. Antara lain untuk kegiatan pelatihan bagi kelompok tani, kegiatan sosialisasi, dan yang terpenting adalah fasilitasi dan pendampingan terhadap kelompok tani. Hanya saja, kegiatan pendampingan kelompok tani ini, semenjak kegiatan Gerhan dimulai tahun 2003 sampai kegiatan tahun 2006, masih terkendala. Penyebabnya antara lain karena peran penyuluh kehutanan belum optimal dan belum dilibatkan secara langsung dikarenakan belum terfasilitasinya penyuluh dalam program Gerhan (sarana komunikasi, insentif, dan lain-lain) selaku petugas pendamping. Selain itu, karena pendampingan terhadap kelompok tani tidak kontinyu dan selalu terputus di akhir tahun anggaran dan memulai lagi pada kegiatan tahun berikutnya. Hal ini disebabkan sistem anggaran tidak mengikuti pola dan mekanisme penyuluhan yang memerlukan kontinyuitas waktu.

Nah, berbagai kekurangan yang dirasakan tersebut telah berupaya ditutupi secara optimal oleh Departemen Kehutanan. Mulai kegiatan Gerhan tahun 2007, kegiatan pendampingan terhadap kelompok tani pelaksana Gerhan telah dilaksanakan dengan konsep multiyears, yaitu dengan merekrut Petugas Lapangan Gerhan (PLG) dari tenaga sarjana teknis Kehutanan/Pertanian. PLG ini dikontrak dengan tahun jamak terhitung Oktober 2007 hingga Desember 2009, dengan tugas utamanya adalah sebagai pendamping kelompok tani pelaksana Gerhan, baik secara teknis maupun administrasi/kelembagaan.

Untuk menunjang optimalisasi pelaksanaan tugasnya tersebut, PLG diberi fasilitas sarana dan prasarana serta anggaran yang relatif memadai. Antara lain sarana transportasi berupa kendaraan roda dua, 1 (satu) unit untuk masing-masing PLG, biaya eksploitasi kendaraan, honorarium, uang pemondokan, uang perjalanan dinas, biaya pertemuan kelompok, biaya temu usaha, biaya ATK, dan lain-lain. Dengan semua fasilitas tersebut, PLG diharapkan bisa bekerja optimal dalam membina kelompok tani pelaksana Gerhan, sehingga berimplikasi pada keberhasilan kegiatan Gerhan secara keseluruhan.

Meskipun keberadaan PLG ini difasilitasi oleh Departemen Kehutanan melalui Unit Pelaksana Teknis di daerah (di Sumatera Barat melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Agam Kuantan), namun secara penugasan PLG bekerja dan bertanggung jawab kepada Dinas yang menangani urusan kehutanan di Kabupaten/Kota. Dinas yang membidangi kehutananan di Kabupaten/Kota berwenang melakukan penetapan penempatan lokasi tugas PLG serta berwenang memberikan penugasan-penugasan lainnya kepada PLG sepanjang penugasan tersebut masih berkaitan dengan kegiatan Gerhan.

Namun, dari fakta yang berkembang di lapangan, kondisi yang terjadi masih belum optimal sesuai dengan harapan dan tujuan dari keberadaan PLG tersebut. Penyebabnya antara lain, karena berbagai kondisi, semenjak tahun 2007 anggaran kegiatan hutan rakyat belum bisa dilaksanakan. Hal ini menyebabkan PLG tidak bisa melaksanakan tugas utamanya secara optimal, yaitu membina kelompok tani hutan rakyat. Masalah lainnya adalah persoalan kinerja PLG yang juga belum seluruhnya dan belum sepenuhnya optimal. Hal ini antara lain disebabkan oleh faktor internal dari diri PLG yang bersangkutan, seperti semangat dan motivasi kerja yang rendah, kompetensi yang kurang, dan faktor eksternal berupa kurang harmonisnya hubungan kerja yang terjalin antara PLG dengan dinas di Kabupaten/Kota.

Terlepas dari itu, setelah kurang lebih 1.5 tahun melaksanakan tugasnya, ada beberapa permasalahan yang ditemukan oleh PLG di lapangan. Jika dirangkum, permasalahan tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut:

Kelompok Tani yang ada saat ini sifatnya masih sementara, belum permanen, belum ada legalitas (SK penetapan), sehingga organisasi kelompok belum tertata dengan baik. Kondisi ini menyebabkan mekanisme dan dinamika dalam kelompok tidak berjalan. Juga ada sebagian kelompok masyarakat yang belum memahami bagaimana prosedur mendirikan kelompok tani dan bagaimana menata organisasinya.

Sikap mental sebahagian anggota kelompok tani yang belum positif. Seperti: tanggungjawab dan kesadaran merawat tanaman yang telah ditanam masih rendah, hanya mau bekerja jika telah ada upah, sulit dikoordinir/diatur, tidak bisa (tidak mau?) meluangkan waktu untuk kegiatan-kegiatan kelompok, dan lain-lain.

Sebahagian masyarakat belum menyadari nilai ekonomi dari kegiatan RHL yang sedang mereka laksanakan. Masyarakat hanya berfikir pragmatis, karena kegiatan RHL tidak bisa segera menghasilkan, maka masyarakat melaksanakan kegiatan hanya berorientasi untuk memperoleh upah dari keproyekan.

Selalu ada pertanyaan dari masyarakat, khususnya kelompok tani, mengenai kepastian kelanjuatan kegiatan. Kapan pekerjaan akan dilanjutkan, kapan anggaran akan cair, dan lain-lain.

Pada lokasi-lokasi kegiatan yang telah menyelesaikan kegiatan pemeliharaan, kelompok tani pelaksananya banyak yang kemudian menerlantarkan tanaman yang telah ditanam dan kembali lebih fokus menjalani profesi sebagai petani sawah, berdagang, dan lain-lain.

Untuk lokasi kegiatan reboisasi, masyarakat disekitar lokasi hutan yang akan direhabilitasi butuh kepastian apakah mereka akan dipekerjakan oleh pihak III pelaksana reboisasi. Sedangkan pihak III sendiri belum bisa memberi kepastian.

Hubungan kerja antara PLG dengan petugas lain di Dinas Kabupaten/Kota belum sinergis. Sebagian petugas dinas belum memahami fungsi dan manfaat keberadaan PLG, sehingga ada anggapan akan terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Selain itu, juga banyak penugasan kepada PLG yang tidak sesuai dengan tugas pokok dan tanggung jawabnya sebagai Petugas Lapangan Gerhan.

Berkaitan dengan beberapa persoalan diatas, untuk perbaikan ke dapan diharapkan fungsi dan peran PLG bisa direvitalisasi sehingga sesuai dengan harapan dan tujuan dari keberadaannya. Untuk itu, kepada masing-masing PLG diharapkan untuk terus-menerus mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya, khususnya dibidang teknis kehutanan serta bidang pendampingan kelompok tani, baik secara teknis maupun kelembagaan. Sedangkan kepada pihak dinas di Kabupaten/Kota, diharapkan mampu mendayagunakan keberadaan PLG sesuai dengan fungsi dan tugasnya serta dengan mempertimbangkan porsi peran yang mungkin mereka emban, yang tentunya berkaitan dengan kegiatan Gerhan dan tidak menyalahi ketentuan yang berlaku. Akhir kata, semoga PLG bisa memperlihatkan hasil karya yang lebih nyata sehingga eksistensi PLG diakui dan pantas diperjuangkan!!

Rabu, 18 Februari 2009

Kenapa Orang Tua Suka Melarang??

Saat kanak-kanak kita mungkin sering kesal pada orang tua kita. Kita kesal ketika sedang asik bermain bola kemudian disuruh pulang, disuruh mandi, dan diminta diam atau bermain dirumah saja. Lain waktu, kita mungkin kesal karena tidak dibolehkan bermain hujan-hujanan. Padahal rasanya alangkah menyenangkannya bermain dibawah guyuran hujan itu. Kita juga pernah kesal karena dimarahi ketika ketahuan habis mandi-mandi disungai dipinggir kampung bersama gank kanak-kanak kita. Kita juga berulang-ulang kesal karena tidak boleh bermain perang-perangan ketapel, tidak boleh memanjat pohon, tidak boleh main kesana, tidak boleh main kesini, tidak boleh main ini, tidak boleh main itu.

Singkatnya, dalam alam pikiran masa kanak-kanak kita ketika itu, kita tak habis fikir kenapa orang tua kita tidak mengerti kesenangan kita? Kenapa semua yang bisa membuat kita senang, selalu dilarang oleh orang tua kita? Kenapa terlalu banyak larangan untuk kita? Padahal yang dilarang itu hal-hal yang amat menyenangkan untuk kita?

Ketika itu, orang tua kita selalu memberi jawaban: "itu berbahaya nak", "nanti kamu sakit nak", "itu tidak baik nak". Tapi jawaban-jawaban itu, bagi kita ketika itu terasa "memuakkan". Kita kadang dengan putus asa sering mengeluh" papa tidak sayang aku", atau "mama jahat, pelit", ketika kita dilarang-larang oleh mereka.

Nah, ternyata kita bisa memahami dengan baik alasan sebuah perbuatan seseorang itu hanya jika kita berada pada posisi orang tersebut. Sekarang, setelah saya menjadi seorang ayah dengan tiga orang anak, saya bisa memahami semua alasan dari larangan-larangan yang sering kita terima dari orang tua kita di masa kanak-kanak dulu. Ternyata orang tua, memang selalu mengkhawatirkan kesehatan, keselamatan anak-anaknya. Terkadang berlebihan. Itulah yang menyebabkan para orang tua terlalu banyak memproduksi larangan untuk anak-anak mereka.

Rabu, 11 Februari 2009

"Urang Awak" Kehilangan Identitas

Pasti sangat banyak diantara kita, urang minang yang ada di kampung (di Sumatera Barat), punya sanak saudara di rantau. Ya, sebab angka statistik memang mencatat, bahwa penduduk Sumatera Barat cuma berjumlah lebih kurang 4 juta jiwa. Sedangkan Orang Minang di perantauan, yang tersebar diseluruh nusantara bahkan manca negara, jumlahnya konon mencapai angka 8 juta jiwa. Angka itu membuktikan bahwa Orang Minang memang perantau.

Namun, patut kita pertanyakan, Orang Minang diperantauan itu masihkah mereka memiliki identitas sebagai Orang Minang? Kenapa saya pertanyakan itu? Sebab, sangat banyak dunsanak kita dirantau itu yang sudah tidak tahu dimana kampung halamannya, tidak mengerti sako dan pusakonya. Bahkan yang lebih memprihatinkan, banyak yang sama sekali tidak bisa berbahasa Minang. Bayangkan, bahkan sekedar bahasa ibu pun sudah tidak dimiliki oleh banyak Orang Minang diperantauan. Jika sekedar bahasa saja terlupakan, lebih-lebih lagi budaya dan adat istiadat.

Persoalan Bahasa ini saya anggap sangat penting kita soroti. Sebab, di dunia ini, bahasa daerah/bahasa ibu adalah pembeda utama antara satu sub-etnis dengan sub-etnis yang lain. Sebab, secara biologis, antar sub-etnis tidaklah sumir untuk bisa dibedakan. Kita tentu tidak tahu apakah seseorang itu orang Jawa, orang Batak, orang Minang, atau orang Sunda, hanya dari mengamati mereka secara fisik biologis. Tetapi, jika kita dengar mereka berbicara, setidaknya kita akan bisa menebak dari etnis/sub-etnis manakah mereka. Bahkan saat mereka berbahasa Indonesia sekalipun, kita masih bisa menebak asal mereka dari dialek bahasa daerah mereka saat berbicara. Artinya, bahasa daerah itulah yang menjadi identitas utama suatu sub-etnis. Nah, saat ini, Orang Minang di perantauan banyak yang sudah kehilangan identitas tersebut.

Tak usah jauh-jauh, keluarga besar saya dan istri adalah contohnya. Para sepupu kami yang banyak menetap di Jakarta, rata-rata tidak bisa berbicara bahasa Minang. Jika mendengar mereka berbicara, sama sekali tidak ada tanda-tanda mereka sebagai orang Minang. Ketika berbicara, mereka lebih mencirikan diri sebagai orang Jakarta, orang Betawi, orang Sunda, atau orang Jawa.

Wajar memang demikian. Sebab dialek mereka itu terbentuk oleh sosialisasi dilingkungan sosial mereka. Mereka semenjak lahir bersosialisasi dilingkungan masyarakat heterogen Jakarta, maka jadilah dialek berbahasa mereka seperti layaknya orang-orang Jakarta berbahasa. Nah, yang salah adalah orang tua mereka. Orang tua mereka tidak mengajarkan Bahasa Minang di lingkungan rumah. Menurut hemat saya, seharusnya para orang tua yang notabene Orang Minang tulen itu, mengajarkan Bahasa Minang pada anak-anak mereka. Di lingkungan rumah tangga, seharusnya Bahasa Minang dijadikan sebagai alat utama komunikasi verbal.

Bandingkan dengan orang Jawa. Dimanapun orang Jawa berada, mereka akan berbahasa Jawa sesama mereka. Anak-anak orang Jawa, kemanapun orang tua mereka merantau, dipastikan tetap bisa berbahasa Jawa. Sebab, dilingkungan rumah tangga, mereka tetap menggunakan bahasa ibu mereka itu. Buktinya, kita tentu tahu, bahkan orang-orang Jawa yang ada di Suriname saat ini, yang sudah merupakan keturunan kesekian dari nenek moyang mereka yang berimigrasi di zaman penjajahan Belanda dahulu, masih mampu berbahasa Jawa dengan sangat-sangat fasih.

Pertanyaannya, kenapa orang Minang dirantau cendrung tidak mengajarkan Bahasa Minang pada anak-anak mereka? Saya mensinyalir, itu karena orang minang itu sendiri sudah mengalami krisis identitas. Krisis identitas itu antara lain berbentuk tidak adanya rasa bangga terlahir sebagai Orang Minang. Banyak penyebabnya. Antara lain, karena adanya berbagai stereotype dan stigma negatif tentang Orang Minang yang terlanjur berkembang ditengah-tengah masyarakat, sehingga menyebabkan sebagian Orang Minang dirantau "malu" sebagai Orang Minang. Mereka akhirnya berusaha menghilangkan Identitas ke-Minang-annya . Antara lain dengan tidak mau berbahasa Minang dan tidak mengajarkan Bahasa Minang pada anak-anak mereka. Lebih ektrim lagi, ada yang berusaha keras agar mampu berbahasa atau setidaknya berdialek bahasa sub-etnis lain, supaya mereka tidak disangka sebagai Orang Minang.

Implikasi dari persoalan ini ternyata sangat luas. Orang Minang merasa tidak percaya diri menggunakan Bahasa Minang saat ngobrol antar sesama mereka ketika mereka berada dilingkungan bukan orang Minang. Padahal, kembali kita ambil contoh orang Jawa, teman-teman sekantor saya yang orang Jawa sangat percaya diri dan cuek saja ngobrol menggunakan bahasa Jawa dilingkungan kantor, ditengah-tengah karyawan lainnya yang mayoritas Orang Minang.

Orang Minang juga banyak yang tidak percaya diri (kalau tidak bisa dibilang malu) dengan kemampuan berbahasa Indonesianya karena masih kental dengan dialek Minang. Dan celakanya, sebahagain orang Minang malah justru malu/risih mendengar orang Minang lain berbahasa Indonesia kalau masih kental dialek Minangnya. Orang Minang merasa kampungan kalau berbahasa Indonesia dengan dialek kampung mereka. Padahal, orang Batak tidak pernah malu berbahasa Indonesia dengan dialek batak yang keras, orang Sunda tetap percaya diri berbahasa Indonesia ala Sunda yang mendayu-dayu, orang Jawa juga tidak merasa perlu menghilangkan dialek medok mereka saat berbahasa Indonesia.

Orang Minang malu berbahasa Indonesia dengan dialek Minang ini, menurut hemat saya juga terjadi karena rekonstruksi budaya yang dibangun oleh budaya populer melalui media massa, terutama media audio visual televisi. Media televisi yang dari awalnya memang berkembang di Pulau Jawa (baca Jakarta) , dan dikelola secara teknis dan materi program mayoritas juga oleh orang-orang dari etnis yang ada di pulau Jawa, menyebabkan berbagai tayangan program acara di televisi kental dengan dialek masyarakat Pulau Jawa kebanyakan. Para presenter program-program TV dengan nuansa populer haruslah mereka-mereka yang mampu berdialek gaul ala Jakarta. Sinetron, film, juga penuh dengan dialog-dialog berdialek masyarakat Pulau Jawa. Talkshow, wawancara, mayoritas juga menghadirkan artis, tokoh, maupun pejabat yang bersasal dari Jawa. Nah, masyarakat yang terus-menerus disuguhi oleh tayangan-tayangan tersebut, akhirnya merasa bahwa dialek bahasa Indonesia yang "tepat' itu adalah sebagaimana yang sering ditayangkan dalam berbagai program televisi itu. Yaitu dialeknya orang Jakarta/Betawi, dialek Sunda, dan dialek Jawa tentu saja. Sehingga ketika mendengar dialek-dialek lain, masyarakat merasa itu ganjil. Akhirnya, masyarakat dengan dialek lain, termasuk dialek Minang, merasa "malu" dengan dialek mereka sendiri ketika berbahasa.
Rata Penuh
Aneh memang, Bahasa Indonesia yang sejatinya berakar dari bahasa Melayu, oleh masyarakat justru dipersepsikan lebih cocok digunakan dengan dialek masyarakat di Pulau Jawa. Dialek lain dianggap aneh, termasuki dialek Minang. Dianggap aneh jika berbahasa Indonesia dengan dialek Minang. Padahal Bahasa Minang banyak kemiripan dengan Bahasa Indonesia, dan merupakan salah satu sumber pembentuk Bahasa Indonesia. Alhasil, Orang Minang semakin malu dengan bahasa daerahnya. Dan, Orang Minangpun makin kehilangan identitasnya..






Kamis, 29 Januari 2009

Peresmian Ponpes Gontor Cabang Sumatera Barat

Siapa yang tidak kenal Pondok Pesantren Gontor? Pesantren modern itu namanya sudah sangat dikenal ditingkat nasional, bahkan boleh jadi di manca negara. Institusi Pendidikan Islam ini telah banyak melahirkan tokoh ulama yang berpengaruh dan menjadi panutan umat. Tidak saja melahirkan ulama, Gontor juga banyak melahirkan tokoh nasional yang bergerak diberbagai bidang. Salah seorang diantaranya, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Hidayat Nur Wahid. Nah, Pondok Pesantren Modern Gontor ini segera akan memiliki cabang di Provinsi Sumatera Barat. Tepatnya di Kecamatan Sulit Air Kabupaten Solok.

Selasa, 27 Januari 2009 lalu, Menteri Kehutanan MS. Kaban, didaulat untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pondok modern Gontor Cabang Sumatera Barat tersebut. Selain dihadiri oleh para ulama Gontor, turut hadir dalam acara tersebut ; Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fawzi, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Budayawan Taufiq Ismail (yang merupakan putra asli Tanah Datar Sumatera Barat), Ustadz Yusuf Mansyur, serta para tamu undangan lainnya. Menurut rencana, Komplek Pondok Pesantren tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 7 hektar.

Dengan hadirnya Cabang Pondok Pesantren Gontor di Sumatera Barat, diharapkan Sumatera Barat kelak kembali melahirkan ulama-ulama besar yang tidak saja menguasai ilmu agama, tetapi juga mumpuni dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagaimana umumnya hasil didikan Gontor yang kita kenal selama ini. Animo masyarakat Sumatera Barat untuk mengirim putra-putri mereka menuntut ilmu ke Gontor memang cukup tinggi. Dengan keberadaan cabang ini, animo yang besar tersebut tentu akan lebih terakomodir.


Sebagaimana lazimnya tiap kegiatan yang dihadiri oleh Menteri Kehutanan, pada acara kali ini juga dilakukan kegiatan penanaman pohon. Para tokoh yang hadir, serta peserta acara lainnya, menanam berbagai jenis pohon di areal yang telah disediakan. Jenis bibit pohon yang ditanam antara lain; Andalas/Morus Macroura (yang merupakan salah satu jenis tanaman langka endemik Sumatera Barat), Mahoni dan Ketapang. Menhut berharap, kegiatan menanam benar-benar bisa membudaya ditengah-tengah masyarakat. Sebab, kegiatan menanam adalah ibadah yang mendatangkan pahala yang tidak putus-putus bagi yang melaksanakannya. Sebab dengan menanam, berarti kita telah berikhtiar memperbaiki kondisi lingkungan untuk menyelamatkan kehidupan. Dengan demikian, sebagai manusia kita telah melaksanakan misi ke-khalifah-an kita di muka bumi.

Rabu, 28 Januari 2009

Kagum

Tiap orang pasti memiliki perasaan kagum terhadap objek atau subjek tertentu. Biasanya orang akan sangat mengagumi objek/subjek yang berkaitan dengan minat/hoby mereka masing-masing. Seorang peminat seni rupa, tentu amat mengagumi para perupa yang telah menghasilkan berbagai adi karya yang mutunya diakui oleh dunia. Sementara, para penggemar olah raga pastinya sangat mengagumi atlet-atlet idola mereka yang telah menorehkan berbagai prestasi fenomenal. Yang hobynya musik, mengagumi para musisi yang mengusung aliran musik dari genre yang mereka sukai. Demikian seterusnya..

Siapa yang saya kagumi? Saya kagum pada kedua orang tua saya, dan semua orang yang mampu melakukan, membuat, dan menghasilkan hal-hal yang tidak mungkin mampu saya lakukan, buat, dan hasilkan.

Kenapa saya kagum pada kedua orang tua saya? Alasan utamanya adalah, karena beliau berdua menurut saya mampu menjalani hidup yang hampir-hampir tidak masuk akal jika dinilai dengan logika matematis. Beliau berdua, dengan berbagai kondisi keterbatasan, mampu mengarungi kerasnya kehidupan dan mengantar anak-anak mereka sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Saya tahu betul bagaimana mereka strugling untuk itu. Beliau berdua punya slogan begini: "demi pendidikan kalian, tak masalah kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki". Sebuah ungkapan yang menggambarkan tekat mati-matian dari beliau berdua demi kelangsungan pendidikan kami, anak-anak mereka. Dan, Alhamdulillaah, berbekal pendidikan hasil kegigihan beliau berdua itu, kami sekarang bisa mengenyam kehidupan yang layak dan relatif tidak kekurangan.


Setelah kedua orang tua, saya kagum pada para musisi/pencipta lagu, para ilmuwan, para penemu diberbagai lapangan kehidupan, dan banyak lagi. Kenapa saya kagum pada mereka? Sebab, saya, walau dengan usaha dan upaya sekeras apapaun, tidak akan mampu bisa seperti mereka. Karena itu saya sangat kagum pada mereka.

Rabu, 21 Januari 2009

tidak akan diberi judul

entah manusia apa kita....
ketika tiada kita memohon...meminta...menghiba
seolah kita termalang didunia
seolah kita yang paling berhak duluan menerima dari Nya...

entah manusia apa kita....
setelah diberi kita lupa..
seolah tak pernah meminta
seolah semua hasil kerja keras semata...bukan dari Nya...

entah manusia apa kita...
ketika rejeki dari Nya tak pernah cukup dirasa...
seolah dunia akan selamanya..
seolah hidup tak mulia tanpa harta...

entah manusia apa kita..
demi harta berbuat apa saja
seolah tak ada larangan dari Nya...
seolah Dia buta tak melihat apa-apa...

entah manusia apa kita
ketika hasil plagiasi...manipulasi..korupsi..kita anggap pemberianNya...
seolah dia Maha Memaklumi....
seolah itu tidak akan dicatat dosa....

ENTAH MANUSIA APA KITA....

Menanam untuk Sempurnakan Hari (dikutip lengkap dari Kompas/21 Januari 2008


Oleh Ratih P Sudarsono

”Untuk menanam pohon itu, terutama yang diperlukan adalah niat orangnya. Di mana saja, sebenarnya kita dapat menanam. Perhatikan sekitar rumah atau lingkungan kita, pasti ada tempat untuk ditanami pohon,” kata Badri Ismaya.

Badri Ismaya adalah pelopor penghijauan di lereng- lereng bukit di kawasan Puncak yang rusak akibat penjarahan besar- besaran pada awal era reformasi tahun 1998. Warga Kampung Caringin, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini nyaris setiap hari ke luar dari rumah. Ia berkelana dari satu lereng ke lereng lain untuk menanam pohon.

Bagi laki-laki berkulit gelap ini menanam adalah hal yang mudah. Ia hanya perlu berbekal ”senjata” kecil yang disebutnya coredan. Dengan coredan, Badri membuat lubang kecil di tanah dan merobek kantung plastik (polybag) berisi bibit. Bibit pohon itu lalu ditekannya hingga melesak masuk ke dalam lubang. Tangan sedikit kotor, tetapi itu juga bagian dari asyiknya menanam. ”Sehari saya menanam sepuluh pohon, lama-lama lahan terbuka itu ketutup juga,” katanya.

Demikianlah yang dipraktikkan Badri dalam keseharian hidupnya. Dia terus menanam pohon sejak 1975. Badri akan merasa pusing dan tak sempurna menjalani hari jika ia tidak menanam pohon. Bahkan, ketika dia benar-benar sakit, menanam pohon adalah obatnya.

Ke mana pun pergi, ketika diundang desa tetangga atau institusi lain sebagai pembicara, Badri sengaja membawa bibit pohon untuk ditanam di tempat itu. Ia bahkan memiliki peta kawasan penanaman pohon, hasil dari penjelajahannya di sekitar Puncak saat menghijaukan lahan rusak.

”Semoga Allah memberi saya panjang umur dengan badan sehat. Masih banyak lokasi di Cisarua ini yang ingin saya tanami. Anak bungsu saya kayaknya mengikuti jejak saya, dia suka menanam. Dia suka menemani saya menanam. Kadang dia pergi sendiri membawa bibit, entah menanam di mana,” katanya.

Ia merasa bersyukur, masalah penghijauan tidak asing lagi bagi masyarakat meski tingkat partisipasinya masih rendah. Menurut Badri, pada acara seremonial gerakan menanam akan lebih bermakna jika para tokoh panutan masyarakat benar-benar memperlihatkan cara menanam, mulai dari menggali lubang sampai menutup bibit pohon dengan tanah.

”Kalau sekarang kan lubang sudah disediakan, bahkan sekitar lubang diberi karpet agar sepatunya tidak kotor. Bukan begitu mencontohkan cara menanam,” katanya.

Namun, Badri tak mau menyalahkan. Ia justru berusaha memahami dengan berpikir mungkin proses kesadaran menanam saat ini baru sebatas seremonial. Ia yakin suatu saat nanti menanam akan menjadi kebiasaan masyarakat.

Ini sama seperti proses panjang yang Badri alami sampai dia dikenal sebagai penyelamat lingkungan hulu Sungai Ciliwung dan mendapat berbagai penghargaan atas usahanya melestarikan lingkungan.

Ditegur pohon

Badri bertutur, ia pernah jadi perusak hutan kawasan Puncak. Dulu, demi menghidupi keluarga, ia bersama beberapa teman suka masuk hutan dan menebangi pohon untuk dicuri kayunya. Semua itu dilakoninya tahun 1975-1979 sehingga ratusan pohon musnah di tangannya.

Dia berhenti merusak alam setelah mendapat teguran halus dari ”korbannya”, sebatang pohon yang ditebangnya pada Jumat, 6 Oktober 1979. Pada tengah hari bolong itu, Badri seharusnya melaksanakan shalat Jumat, tetapi ia justru sibuk menebang pohon.

”Setetes air jatuh di kepala saya. Hanya setetes, tetapi membuat badan saya segar. Keletihan saya menebang dan memikul kayu langsung hilang. Saya cari-cari dari mana asal tetes air itu, ternyata dari akar pohon yang saya tebang. Saya terkejut. Saya duduk terdiam, merenungkan tetes air itu,” tuturnya.

Sejak Jumat itu dia menjadi gundah. Selama satu tahun kemudian, Badri masuk-keluar hutan sekadar membuktikan bahwa pohon benar-benar menyimpan air. Ia korek bagian bawah pohon untuk menemukan akarnya. Dia potong sedikit akar itu untuk melihat air yang keluar dari ujung akar yang terpotong.

”Akar-akar itu memang mengeluarkan air. Ada yang sedikit, ada yang banyak. Saya tampung air yang keluar dari akar dengan kantung plastik. Sejak tahun itu pula saya berjanji tidak lagi menebang pohon dan akan terus menanam pohon sampai ajal menjemput,” kata laki-laki yang memiliki empat anak dan tiga cucu ini.

Keputusan Badri itu tentu saja mendatangkan masalah. Dahlia, sang istri, sempat marah karena penghasilan Badri menjadi tak efektif untuk membiayai rumah tangga. Bukan itu saja, Badri juga kerap dianiaya biong (spekulan) tanah dan para penjaga keamanan vila-vila di kawasan Cisarua. Sebab, dia akan menanam pohon apa saja di lahan kosong atau telantar yang ternyata ”milik” atau diincar biong tanah. Bahkan, Badri pernah disekap di pos keamanan sebuah vila.

Namun, Badri tak kapok. Lambat laun, setiap orang di sekitar dia, yang dulu memusuhi dan keberatan dengan pilihan hidupnya, belakangan ini justru menggebu-gebu dukungannya.

Ia sering mendapat kiriman buah yang ternyata hasil dari pohon yang bertahun-tahun lalu ditanamnya. Dari menanam jamur merang, ia mendapat kucuran rezeki. Kebahagiaan pada usia senjanya ini ditambah dengan lulusnya dua dari empat anaknya sebagai sarjana komputer dan sarjana kimia.

”Saya tidak pernah memaksa orang lain untuk menanam pohon. Saya hanya ingin menanam pohon sebab saya yakin pohon adalah sumber kehidupan. Saya ingin menyempurnakan hari-hari yang saya jalani ini dengan menanam pohon, sesuai janji kepada Tuhan,” katanya.

Sumur resapan

Selain menjadi pelopor penanam pohon di lahan kritis sekitar Cisarua, Badri juga yang memulai pembuatan dan penggunaan sumur resapan di kawasan itu. Sekitar 1985, saluran air yang berada di sisi jalan di atas kampung tersumbat. Airnya membanjiri rumah Badri.

Ia lalu berinisiatif membuat lubang di halaman rumah dan diisinya dengan bebatuan, ijuk, dan material lain. Air buangan selokan dia arahkan masuk ke sumur resapan tersebut. Setelah itu, banjir tak datang lagi.

”Sejak itu mulailah para tetangga ikut membuat (sumur resapan). Saya juga sering dipanggil ke daerah lain, seperti Jakarta sampai Palembang. Saya diundang untuk bicara di Malaysia dan Singapura tahun 2001, juga ke Filipina pada 2005,” kata Badri yang senang berbagi pengalaman dengan siapa pun yang menginginkannya. (NELI TRIANA/ J WASKITA UTAMA)